Skip to content

People Search Engine

April 14, 2010

Sekitar tahun 1995 saya pernah nonton film The Net (tokoh utamanya Sandra Bullock), film tentang seorang wanita yang identitasnya di-reset menjadi orang yang sama sekali berbeda.

Sepuluh tahun kemudian, 2005, di sebuah film lain berjudul In Her Shoes, ada satu adegan seorang nenek (Ella Hirsch), melacak keberadaan cucu-cucunya (Maggie dan Rose) melalui internet… dan ketemu!

Hmmm… di tahun 1995, menyaksikan film dengan tema seperti itu, di mana identitas seseorang begitu mudahnya dihapus dan digantikan, rasanya masih khayal banget. Setidaknya untuk di Indonesia.

Agak lain waktu nonton In Her Shoes. Tahun itu Friendster sudah ada dan sangat familiar dengan keseharian saya, so film itu lebih down to earth bagi saya.

Nah sekarang… tahun 2010, melacak seseorang jauuuh lebih gampang. Berkat adanya Facebook, apa lagi. Bagi saya, satu-satunya sisa kenikmatan fesbukan adalah itu, main detektif-detektifan! Mencari jejak teman-teman lama yang hilang ditelan rimba. Sekali ketemu, waahh puasnya! Tapi ya sudah, habis itu feel saya kembali “datar” lagi😛 .

*baru saja saya menemukan beberapa teman ex Sempati Air*

Tapiiiii… di balik kemudahan penemuan itu, saya yang introvert ini sebetulnya cukup waswas. Kalau saya bisa nyari orang, berarti orang lain pun akan sangat mudah melacak saya. Kalau tidak secara langsung, bisa jadi melalui kawanku-punya-teman-temanku-punya-kawan *Iwan Fals mode: on*.

Kalau yang mencari itu bermaksud baik sih gak masalah, tapi kalau maksudnya buruk atau jahat? Ya siapa tau gitu seperti di The Net.😀

Dengan semakin terbiasanya saya mencampuradukkan teman-teman di real life dengan di internet, kehatian-hatian saya pun berkurang. Informasi pribadi yang dulunya dengan tegas tidak pernah saya share di internet (karena memang tidak ada kepentingan untuk itu secara pertemanan hanya terjadi di real life), sekarang saya share juga di internet.

Awalnya yang di-share memang hanya informasi yang tidak sensitif, tapi lama kelamaan tanpa sadar bergeser sedikit demi sedikit, sampai akhirnya saya menjadi terbiasa, tidak lagi berhati-hati.

Alamat rumah, nomor hape, tempat bekerja, alamat kantor, nama orang tua, nama saudara kandung, nama anak, nama suami, nama istri, tempat suami/istri bekerja, jabatannya apa, siapa saja teman-temannya, apa aktivitas rutinnya, rute perjalanan pergi-pulang kerja/sekolah, hobi, kebiasaan-kebiasaan rutin, tempat nongkrong favorit, foto terbaru… sebut apa saja… nyaris semua mengenai profile seseorang… terpampang dengan gamblangnya, menunggu untuk “dimanfaatkan”.

Mungkin tidak lama lagi seseorang bakal menerbitkan fitur “people search”. Tinggal ketik nama dan beberapa informasi pendukung… tunggu beberapa saat sementara si mesin pencari yang sudah makin cerdas mampu menganalisa dan mengkait-kaitkan informasi…. dan voila! … halaman results muncul. Setiap result dilengkapi dengan foto dan profile lengkap dari orang yang bersangkutan. Sudah seperti database karyawan saja layaknya. Lengkap dengan histori “kemarin ke mana, hari ini ke mana, besok mau ke mana, dengan siapa, jam berapa, dst” (thanks to Twitter dan Facebook yang menggoda orang untuk narsis dan update status setiap saat, thanks to Google Earth, Nokia Maps, GPS technology, internet murah, dst).

Bayangkan.

Kalau sudah begitu, bagaimana bisa berkelit dari penagih hutang ya?😀

From → ngoceh gak jelas

Comments are closed.

%d bloggers like this: