Skip to content

From Monas With Love

June 6, 2009

Bulan pucat yang terbit terlalu awal mengakhiri kembaraku petang ini di Monas.

Monas yang masih tertidur ketika aku datang, sudah terbangun dari peraduannya. Para pedagang balon, layangan, dan permen kapas merah muda mulai memenuhi pelataran. Anak-anak kecil berlarian bebas, ibu dan ayah mereka menggelar tikar dan bekal. Muda-mudi berwajah cerah mengalir berdatangan, semakin memenuhi sudut-sudut taman yang semula hanya dihuni satu dua pasangan. Delman hias nan semarak lengkap dengan krincingannya wara-wiri menawarkan jasa mereka. Sementara nun di tengah sana, satu grup band musik sedang bersiap-siap menggelar show yang dipastikan sanggup membuat Monas hingar bingar…

Lampu-lampu jalanan dinyalakan, seolah sebagai aba-aba dimulainya malam panjang, menarikku untuk berlama-lama di sana, seolah dia ingin mengatakan, “Jangan pulang dulu, the night’s still young.”

Tapi aku memutuskan untuk pulang. Bukan karena tidak terpikat, tapi karena kembaraku sudah cukup.

Tadi siang, untuk pertama kalinya aku memutari Monas lengkap. Bermula dan berakhir di gerbang Gambir. Ternyata banyak kejutan. Aku menemukan lokasi air mancur menari *yang dulu sekali pernah kucari-cari tapi tidak ketemu*, kebun yang tidak terawat dan terpencil (serius, ini kotor sekali dan kering, kontras dengan bagian Monas yg lain, lokasinya di dekat toilet umum under ground), kolam ikan lengkap dengan air mancurnya (tepat di depan patung Diponegoro), hutan buatan (ooohh.. di sini rupanya rusa-rusa itu berada), sarana gym, lapangan basket, lapangan bola, dan area pejalan kaki khusus untuk refleksi.

atmonas2And the best part is .. satu spot tersembunyi yang teduh, tenang, rindang, hijau, dan jauh dari keramaian. Aku kehilangan arah, tidak tau lagi itu di sisi sebelah mana. Yang jelas dari situ aku bisa melihat puncak gedung Departemen Perhubungan. Sempurna sekali sebagai tempat persembunyian, hehe. Apalagi dilatarbelakangi suara merdu burung-burung berkicau dan kepak sayap merpati yang beterbangan. Betah dan damai.

Mudah-mudahan aku tidak lupa lokasinya, agar kapan-kapan bisa menemukannya lagi saat sedang ingin menenangkan pikiran. Monas luas sekali ternyata. Lucu juga, setelah kembali ke titik awal (gerbang Gambir) aku baru sadar bahwa jalur refleksi itu berada persis di kiri gerbang, sedangkan aku memulai rute ke arah kanan (tujuan awal datang ke Monas memang ingin ke lokasi refleksi yang aku tau teduh). Dan aku sudah beberapa kali mencari-cari rusa tanpa hasil, padahal hutan buatan itu terletak tak jauh dari jalur refleksi. Yah, seperti yang kusebutkan tadi, banyak kejutan… kejutan menyenangkan.

Oh satu lagi. Tau gak? Tanduk rusa yang baru tumbuh terasa lembuuuuut sekali permukaannya karena berbulu halus. Seperti mainan saja! Sedangkan tanduk rusa yang sudah ‘jadi’ terlihat persis seperti ranting pohon. Sayang tidak bisa difoto karena tak ada kamera. Mereka itu adalah jenis rusa totol. Bahasa latinnya: Axis axis. Ha! Remember something? Hehehe… baik ya?

Akhirnya tanpa terasa sinar matahari yang menyengat sudah berganti cahaya lembut langit jingga. Kutinggalkan keteduhan itu setelah kucuri sepotong kedamaian darinya. Kegalauanku berkurang sudah. Saatnya pulang…🙂

PS:
Thanks to Bang Yos yang sudah mengubah wajah Monas menjadi seperti sekarang ini!

Comments are closed.

%d bloggers like this: