Skip to content

Menghitung Anak Ayam Sebelum Telurnya Menetas

April 29, 2009

Ada pepatah yang mengatakan, “Jangan menghitung anak ayam sebelum telurnya menetas”. Artinya.. hmm.. udah pada tau lah ya. *klo ada yg belum tau silakan gugling aja*

Nasehat yang bijak, sangat bagus, tapi implementasinya sulit juga ternyata kalau sudah menyangkut harapan.

Let me tell you a story…

Bulan Maret lalu, waktu aku di Garut, suatu malam aku berkunjung ke rumah tetehku *hai Teteh!* dalam rangka memastikan acara main ke Papandayan. Kebetulan waktu kami sedang berdiskusi, anak bungsunya si Teteh ikut mendengarkan. Rupanya dia juga excited, padahal umurnya baru… berapa ya.. mungkin 9 tahun? So, selama kami diskusi, beberapa kali dia menyatakan keinginannya untuk ikutan.

“Agam ikut, Agam ikut.”

“Besok pagi jangan lupa bangunin Agam ya Mah.”

… dan kalimat-kalimat senada.

Kami, termasuk si Teteh, seingatku sih tidak mengiyakan maupun melarang dengan eksplisit. Tapi di dalam hati, jujur kami tidak terlalu menganggap serius permintaan tsb. Iyalah.. rasanya rada riskan ngajak anak kecil ke Papandayan. Selain repot, juga khawatir dengan keselamatannya.

Esok paginya, kami berangkat tanpa Agam yang sengaja tidak dibangunkan.

Dan efeknya ternyata dahsyat. Agam nangis seharian. Gak mau dibujuk. Si Teteh yang sedang nangkring di kawah Papandayan gak bisa berbuat apa-apa mendengar kabar itu, hanya mengelus dada aja kali, hehehe. Kami pun cuma bisa ikut tersenyum simpati.

Err, tadi aku bilang dahsyat ya? Yup. Karena, malamnya ketika kami kembali ke rumah si Teteh, tangis Agam berlanjut ke part 2. Bukan cuma nangis, tapi ngamuk!! Gak usahlah dideskripsikan ngamuknya gimana, nanti Agam malu, hehehe. Tapi intinya, semua emosi yang tidak bisa tersalurkan langsung ke ibunya sepanjang pagi hingga petang, tumpah ruah malam itu. Perasaan sedih, rasa dibohongi (menurut versinya), marah, rasa ditinggalkan, meledak seketika. Dan emosi yang paling intens? KECEWA.

Terlepas dari apa dasar pertimbangan si Teteh tidak mengajak Agam *yang mana masuk akal* faktanya adalah… malam itu ketika kami berdiskusi Agam telanjur berasumsi bahwa permintaannya untuk ikut sudah dikabulkan. Aku yakin malam itu dia tidur sambil menghitung anak-anak ayamnya. Bahkan mungkin setiap detik yang dilaluinya sebelum tidur, di kepalanya yang mungil itu penuh dengan bayang-bayang asiknya mendaki gunung.

Dan waktu kenyataannya ternyata berbeda 180 derajat dari asumsinya… manusiawi banget kalau emosi yang muncul adalah kecewa.

Kalau sudah menyangkut asumsi… harapan… wajar sekali kalau secara otomatis timbul hasrat untuk menghitung anak-anak ayam yang kuning, imut, dan lucu itu. Why not? Justru di situ asiknya berharap. Karena berharap menimbulkan perasaan positif, bayangan DI MUKA tentang apa yang akan kita peroleh ketika harapan tsb mewujud.

Meskipun di sisi lain ada juga ungkapan seperti ini:

“Jangan berharap kalau tidak ingin kecewa.”😀

(Tapi siapa sih manusia yang bisa TIDAK BERHARAP? ABBA bilang: what really makes the difference between all dead and living things (is) the will to stay alive. Modifikasi dikit deh bagian terakhirnya dengan kata “hoping”.)

Anyway, menurutku harapan itu memang bersahabat erat dengan anak-anak ayam. Kalau sudah sampai di titik BERHARAP (entah ASUMSI kita benar atau salah), pastilah udah ngitung anak-anak ayamnya. Kalimat “Jangan menghitung anak ayam sebelum telurnya menetas” mungkin cantik di atas kertas atau di catatan kaki buku-buku tulis, tapi aku menentang kepraktisan pepatah tsb.😛

So.. biarkan aku berasumsi, berharap, dan menghitung anak-anak ayamku biarpun belum menetas.

Kalau ternyata akhirnya aku kecewa, it’s OK! Memang itu resiko berharap. Yah, mudah-mudahan sih ketika sedang kecewa itu ada seseorang seperti si Teteh yang mendekap erat Agam, menghiburnya, mencium, dan mengatakan, “Sayang, kadang gak semua harapanmu itu bisa dipenuhi. It’s OK if you angry or sad for a while, I understand. I’m here for you if you need me.”

Kecewa itu sehat kok. Nanti juga akan berlalu. Berikan dia waktu untuk mengendap, gak perlu dipaksa dihilangkan, apalagi dipertanyakan. Dan lambat laun kita akan tau bagaimana menghitung anak-anak ayam itu namun diiringi kesadaran bahwa ada kemungkinan kenyataannya nanti agak sedikit berbeda.

Karena kita sudah belajar dari pengalaman…

(tulisan ini dibuat dalam rangka memperingati hari ini, hihihi. asumsi membuatku menghitung 1000 anak ayam, padahal ternyata sebetulnya itu bukan telur ayam. salah sendiri kemaren gak nanya dulu ke penjualnya ini telur ayam apa bukan. ah dasar ayam… ayam…😛 )

From → about me, curhat, opini

3 Comments
  1. ini mah asa mun teu bisa sare, ngitung anak hayam :hammer:

    • mun teu tiasa kulem mah ngetang domba atuh Kang..😛

  2. jadi ayam dolo apa telor dolo???

Comments are closed.

%d bloggers like this: