Skip to content

Belajar dari Orang-Orang Sederhana

April 23, 2009

Dari 24 jam yang aku jalani setiap hari, sering aku berpapasan dengan orang-orang asing yang membawa cerita unik-unik. Misalnya, dulu waktu masih sering naik taksi, aku sering ngobrol dengan si bapak sopirnya. Seringkali pengetahuanku jadi bertambah akibat obrolan itu, topiknya macam-macam, bisa tentang Pak Harto, tentang trik argo kuda, tentang GPS, tentang manajemen taksi2 di Jakarta, tentang politik, tentang para pendemo yang dibayar, tentang cinta, tentang kehidupan malam, waahhh.. banyak bangeeeett klo diinget2 mah.

Atau mereka curhat tentang diri mereka/keluarganya. Ada yang nadanya mengeluh, ada juga yang bangga (misalnya krn sanggup membiayai anak-anaknya sampai sarjana hanya dari nyopir). Mataku kadang suka merebak kalau curhatnya kebetulan versi bangga, hehe, aura kebanggaan mereka kadang kental sekali, sampe nular ke aku. Ada juga yang curhatnya sambil tereak-tereak. Bukan karena emosi, melainkan krn yang curhat sopir bajaj, hihihi, tereak dalam rangka mengalahkan bisingnya mesin bajaj.😛

Sering terlintas niat untuk rutin menuliskan pengalaman2 itu di blog, tapi apa daya aku lebih sering lagi terserang penyakit hore… hoream (bhs sunda, artinya males), hehehe.

Anyway, dua hari yang lalu, kisahnya sedikit berbeda.

kepitingrebusPulang kantor, aku mampir di warung Seafood Muwardi Grogol. Biarpun udah lama gak ke situ, ternyata aku masih dikenali oleh salah seorang Mas-nya. Terbukti waktu aku pesan kepiting, dia langsung bilang, “Direbus kan?”. Yup. Tapi waktu aku pilih seekor kepiting, dia merekomendasikan ekor, eh, kepiting yang lain. Yowislah aku nurut aja.

Nunggu beberapa jenak… akhirnya pesananku siap.

Waktu dimakan, lha kok rasanya amis ya, dan dagingnya pun hancur begini, gak seperti biasanya (manis, gurih, lembut, tapi gak hancur). Tapi tetep kumakan juga sih. Hanya saja, karena gak ada yg bs dikunyah, makannya jadi cepat, wong tinggal disruput2 aja saking hancurnya. Menjelang habis, karena penasaran aku baru nyeletuk ke si Mas-nya, “Mas, kok dagingnya hancur ya?”. “Oya, masa sih?” “Iya. Wah berarti Mas salah tuh tadi milihinnya.”

Sebetulnya celetukanku itu cuma pengen ngasih tau aja bahwa dia gak pinter milih kepiting😛 . Bukan mau komplen, suwer.

Ehhh.. tak dinyana tak disangka.. setelah kepiting dan nasiku habis, sewaktu aku lagi menurunkan isi perut sambil minum, tiba-tiba aku disodori sepiring kepiting rebus lagi!!!

Dengan bengong aku menoleh ke si Mas itu. Dan dengan santainya si Mas bilang, “Gpp Mbak, ini digantiin, daripada pelanggan kecewa.”

Wow!!! KEREEEEEEEEEENNN!!! Seorang penjual kepiting tenda pinggir jalan sudah menerapkan prinsip customer satisfaction!

Demi menghargai usaha si Mas tersebut maka tanpa ragu aku melahap kepiting keduaku, yang rasanya kali ini seenak biasanya.🙂

ojek motorPulang makan niatnya sih jalan kaki, meskipun gak dekat-dekat amat ke rumah. Tapi baru juga sampai belokan, ada ojek yang kebetulan lewat yang agak ragu-ragu menawarkan jasanya. Hmm, gak tau apa yang membuat aku menerima jasanya (jarang banget aku naek ojek, biasanya ngebajaj), mungkin udah jalannya kali, demi supaya aku punya bahan tulisan ini, hihihi.

“Bang, ke jalan Susilo ya, berapa?”

“Waduh berapa aja deh Bu, terserah, gak enak ngasih harganya soalnya deket.”

“Ya udah, 5 ribu mau? Gak rugi kan?”

“Ya Bu, lumayan buat beli bensin.”

So, naiklah aku di belakangnya. Dan bisa ditebak dong, kami pun ngobrol, hihihi. Padahal di motor yak!😛 Dari mulutnya meluncur cerita bahwa suatu kali rute terjauhnya membawa penumpang, ngojeg, adalah ke Bogor, di hari Lebaran, pulang hari! “Dibayar berapa tuh Mas?”, tanyaku. Dia menyebutkan sejumlah angka yang lumayan besar. “Gak pegel tuh? Berhenti-berhenti gak?” “Paling berhenti minum kopi doang Mbak”, katanya. Waktu aku menyatakan kekaguman, dengan entengnya dia bilang, “Segitu sih kecil Mbak, ke Jawa aja pernah saya naek motor, pulang kampung.”

Selain cerita ke Bogor dan Jawa itu, dia juga cerita bahwa dia sudah punya langganan. Tiap pagi, jam 7, jam 8, dan jam 9 dia sudah punya jadwal menjemput pelanggannya lalu mengantar mereka ke tujuan. Di jam-jam lain, kalau ada yang menelpon, dia pun bisa jemput. Di luar itu, baru dia mangkal.

Percakapan kami terhenti sampai situ karena aku sudah sampai. Begitu aku turun dan bayar…

“Eh bentar Mbak….”

“Ya Mas?”

“Kalau Mbak kapan-kapan ada perlu, Mbak bisa call saya Mbak, nanti saya jemput dan antarkan. Nomer HP saya.. 021-98516xxx. Nama saya Rere.”

Huaaaaaa… untuk kedua kalinya malam itu aku tertegun. Ck ck ck.. orang-orang sederhana ini.. ternyata menyimpan naluri bisnis yang lebih hebat daripada aku. Si Rere Ojek ini ilmu marketingnya jalan euuuyyy.. Dia gak cuma nunggu customer, tapi menjemput bola. Salut!

Maka kucatatlah dalam address book-ku nomernya: Rere Ojek – 021-98516xxx. *aniwei, untuk kamu-kamu yang tinggal di wilayah Muwardi/Susilo, kalau perlu ojek boleh kontak dia nih.. nomer HP-nya ntar minta ke aku japri, hihihi*

Moral of the story? Jangan menyepelekan orang kecil. Don’t judge the book by the cover. Kita bisa belajar dari siapa saja, di mana saja, kapan saja. Dan.. aku bersyukur masih sempat ‘disapa’ oleh orang-orang asing yang lewat dalam keseharianku ini.🙂

From → about me, opini, saksimata

One Comment
  1. tapi aku orangnya besar teeehhh😛

Comments are closed.

%d bloggers like this: