Skip to content

What Goes Down Will Come Up

January 12, 2009

kampungnagaSebulan yang lalu (8/12/2008), akhirnya aku berkesempatan berkunjung ke Kampung Naga bareng 2 orang temanku, plus mama dan saudaraku.

Lokasi Kampung Naga ada di antara Garut-Tasik. Jalanannya bagus sih, cuma berliku-liku ajah. Jadi yang mabokan usahakan duduk di depan deh.😛

Seperti udah dilaporkan Anna (yang gak males kayak aku, hehe), Kampung Naga merupakan perkampungan Sunda yang masih alami, yang sangat memegang teguh adat dan pamali. Upacara-upacara yang senantiasa dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga ialah Upacara Menyepi, Upacara Hajat Sasih, dan Upacara Perkawinan.

Perkampungan ini berada di lembah yang dikelilingi tebing. Untuk berkunjung ke dalam, kita harus didampingi oleh pemandu dari masyarakat lokal untuk menghindari kesalahan memasuki area tertentu yang memang tidak boleh diakses.

Baidewei, kalian penasaran gak kenapa namanya Kampung Naga? Memang apa hubungannya dengan binatang penyembur api asal negeri dongeng itu?

Ternyata (ini menurut pemandu kami lho, entah betul atau dia cuma mau bercanda), kata “naga” itu kependekan dari “nagawir“. Lebih lengkapnya “dina gawir”. Dalam bahasa Sunda, “gawir” artinya tebing; “dina gawir” artinya “di tebing”. So, kampung naga-wir = kampung di tebing.

Yaa.. secara geografis emang iya sih, di tebing atau lebih tepatnya dikelilingi tebing.

Trus ini nih yang seru. Karena letaknya di lembah, menuju ke sana kita harus menuruni tangga yg berjumlah 360! Wadooohh… padahal kami masih gempor habis dari Curug Orok paginya. Itu info yang luput dari perhatianku. Akhirnya mama ditemeni saudaraku gak ikut turun deh, secara mama gak mungkin kuat. Uh, padahal aku yang maksa mamaku ikut.

Ya sudah akhirnya yang muda-muda aja yang turun dan melihat-lihat kampungnya. Habis menuruni tangga, kita bakal ketemu sawah. Di sebelah sananya ada hutan lindung yang terlarang untuk dimasuki (bahkan oleh masyarakat setempat). Di sepanjang sisi sawah dan perkampungan, mengalir sungai yang tenang. Airnya coklat, tapi bersih gak ada sampah.

Gak lama masuk deh ke perkampungan. Kita dibawa ke tempat menumbuk padi, ke mesjid, ke balai pertemuan, ditunjukin atap rumah yang berlapis-lapis (dari apa aja ya bahannya? lupa aku), tempat mandi, sumber air, wis pokoknya keliling desa deh.

Sempat berfoto di depan sebuah rumah bareng seorang ibu sepuh yang memeluk ayam.🙂 Kemudian menjelang pulang kita diminta mengisi buku tamu. Oh ada beberapa rumah yang menjual kerajinan tangan dari bambu dan batok kelapa. Kalau mau beli silakan, kalau gak juga gpp.

Boleh motret-motret? Hehe, boleh dong. Nanti dikasih tau kok mana yang boleh difoto, mana yang nggak. Mereka punya kepercayaan tertentu kali ya, ada hal-hal yang tabu untuk difoto. Jadi sangat dianjurkan untuk mengikuti apa kata pemandunya. Waktu kami ke sana, hampir semua boleh difoto kecuali sebuah kerangka bangunan yang belum selesai. Katanya itu untuk dipake upacara keagamaan esok harinya (Idul Adha).

Kami gak lama di situ, secara udah mendung juga. Oya, FYI, Kampung Naga ini terkenal dengan tampahnya yang kuat lhooooo. Tau tampah gak? Itu untuk menampi beras. Kalau bahasa Sundanya nyiru. Selain nyiru, yang banyak dicari orang (termasuk saudaraku) juga ayakan. *apa sih bahasa indonesianya ayakan?*

Nahhh.. sekarang bagian yang paling gak enaknya. Yaitu? Naiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiikkkk… 360 anak tangga!!! Ngos-ngosan! Hhhhhhhhhhh….

Begitu nyampe atas, “Bu, minta teh botol ya!” Dan untuk kedua kalinya dalam sehari itu kami pun kembali bersusah payah mengatur napas agar kembali ke ritme semula.😛

Tapi tak apa. Puas kok. Kalau gampang mah gak seru, gak ada tantangannya.😉

Oya, sekedar statistik *kutip dari Anna ah, hehe*. Rumah-rumah di Kampung Naga ini atapnya belum menggunakan genteng, gak ada listrik, pekerjaan penduduknya bertani, dan berpendidikan rata-rata tamatan SD karena terbentur biaya. Jumlah bangunan di kampung ini 112 terdiri dari 109 rumah, 1 masjid, 1 lumbung padi dan 1 balai pertemuan. Tapi meskipun gak ada listrik, TV sih ada, pake aki. Dan meskipun gak ada telepon, tapi mereka pake HP lho! Gaya yah, hehe. Beberapa penduduk juga punya motor untuk mengangkut barang-barang yang mereka beli dari luar kampung. Kesimpulannya, meskipun secara adat mereka masih tradisional, tapi mereka juga tidak menolak teknologi yang memudahkan hidup mereka sepanjang itu tidak bertentangan dengan adat mereka.

Eh, eh, dan ternyata kita boleh nginep lho, asal janjian dulu sama orang sana. Hmm, gimana ya rasanya tinggal di sana dan bergabung dengan keseharian mereka?

7 Comments
  1. ayakan: nu aya di hakan….heuheuheu. aku 6 taon di garut belom pernah ke sana. ntar ah kapan2….

  2. “Mereka punya kepercayaan tertentu kali ya, ada hal-hal yang tabu untuk difoto”

    dan seperti si empunya ne blog punya hal² yang tabu untuk memfoto dirinya sendiri … hahaha

  3. gue kalah sama orang kampung naga, dah punya hp, sedangkan gue yang di jakarta gak punya hp… huaaaaaa

    asik banget boleh nginap, kalo gitu kalo bisa sih nginep sama bunga desa disana.. xixixixixi

    (langsung kabur)

  4. hehe I miss that place

  5. @aci: baru 6 taon. aku puluhan taon baru kemaren ke situ.😛
    @arai: eits, bukan tabu. tp mana bisa memoto diri sendiri coba? hehehe.
    @bloggembel: wiii.. beli atuh jangan mo kalah.. hehehe. ato pacarin aja bunga desa di sana, sapa tau diangkat mantu dan dikasih HP. hihihi.
    @hendra: wah dulu sering ke situ ya Hen?

  6. Mereka punya kepercayaan tertentu kali ya, ada hal-hal yang tabu untuk difoto” emang ko lain suku laen adat..

  7. Saya asli orang Sunda belum pernah berkunjung ke Kampung Naga. Setelah baca postingannya jati tertarik tuh, mampir ke Kampung Naga.
    Oh ya, nuhun ah tos mampir ka BandungTimur.com

Comments are closed.

%d bloggers like this: