Skip to content

Curug Orok

January 11, 2009

Udah sebulan berlalu sejak jalan-jalan ke Garut Idul Adha lalu. Wah malah setahun ding.😉

Aku baru nulis cerita hari pertama dan kedua aja. Belum sreg rasanya kalau gak dilanjutkan. Meskipun udah basi kali yah.😛

But, nevermind… lanjut!

Curug Orok

Perjalanan dari Sari Papandayan ke Curug Orok gak terlalu lama, kurang dari setengah jam. Jarak kawasan ini dari ibukota Kecamatan Cikajang cuma 5 Km, sedangkan dari ibukota Kabupaten Garut sekitar 31 Km. Curug Orok sendiri berada di ketinggian 250 meter di atas permukaan laut dengan konfigurasi umum lahan berbukit karena letaknya di kaki gunung Papandayan.

Sebetulnya kalau gak mengingat temen-temen seperjalanan, aku pengen berhenti dulu untuk motret pemandangan, beberapa kali. View from the top selalu memikat hatiku. Menurutku selain tempat tujuan wisatanya, perjalanan menuju ke situ juga gak kalah memorable-nya. Lembah, tikungan, sungai, pepohonan yang diselimuti kabut, jembatan, dan para penduduk setempat yang sedang melakukan kegiatan harian mereka.

Jadi saranku kali ini untuk kalian pembaca setiaku *iya kamu!😉 *, coba deh lain kali klo pas lewat view yang bagus, turun sebentar deh. Berfotolah di situ juga. Selain untuk kenang-kenangan, koleksi foto kalian kan jadinya unik, ada nilai tambahnya selain foto di objek wisata yang semua orang udah tau.

Kalau dari arah Garut, jalan masuk ke lokasi Curug Orok ada di sebelah kiri jalan. Nanti kamu bakal menemukan plang yang bertulisan “Wana Wisata dan Bumi Perkemahan Angling Darma: Curug Orok, Ci Kahuripan, Curug Kembar”. Jangan sampe kelewat yah, soalnya plang itu adanya bukan beberapa meter dari lokasi (supaya kita bisa siap-siap), tapi persis di belokannya, hehehe. Nah di mulut jalan itu ada gapura dan loket tiket masuk, tapi gak ada siapa-siapa di situ. Ternyata tempat beli tiketnya dipindah ke dalam. Jadi, jalan aja terus. Jalanannya berbatu-batu, diapit oleh sedikit pohon teh dan pohon pinus. Waktu kami datang, sedang turun kabut. Di sebelah kiri jalan itu jurang. Pasti bagus sekali view-nya kalau sedang cerah. Tapi karena kabut jadi gak bisa liat apa-apa deh.

Gak lama kami sampai di pelataran parkir. Nah di sini baru bayar tiket deh. Aku rada lupa berapa tiketnya, kalau gak salah sekitar Rp 3000 per orang. Di pelataran parkir itu ada toilet, beberapa warung, mushola, dan beberapa bale-bale.

Hmm, air terjunnya di sebelah mana ya, pikirku. Suaranya kok kayak dari bawah. Eh ternyata emang di bawah alias di lembah!😛 Jadi kita harus menuruni jalan yang sudah disiapkan. Sudah dibuat step-stepnya gitu. Tapiiii.. lumayan dalem sih turunnya.

curug orokBegitu nyampe, wiihhh.. dinginnya. Hujan pula. Air terjunnya gak gitu lebar, tapi tinggi dan debit airnya lumayan. Suaranya menderu, dan cipratannya juga ganas. Kalau menghampiri kolamnya, sudah pasti kita basah. Waktu aku menengadah ke atas, wiiihh.. rada serem juga ngebayangin air sederas itu menimpaku. Aku bertanya-tanya, sedalam apa pusaran yang tercipta di tempat air tsb jatuh ya? Tapi gak berniat untuk membuktikan sih, hehe, takut.

Meskipun ingin, tapi kami gak bisa lama-lama di situ. Gak ada yang bawa baju ganti, jadi gak bisa bermain air. Aku motret juga gak bisa sampe puas jadinya. Kameraku sudah basah, ya kena cipratan ya kena hujan. Kalau diterusin takut airnya sempat masuk ke dalam body kamera.

Oya, air terjun ini dinamakan Curug Orok karena konon menurut cerita masyarakat setempat pada tahun 1968 ada seorang wanita muda yang membuang bayinya dari puncak air terjun, sehingga air terjun tersebut dinamakan Curug Orok (dalam bahasa Sunda, orok berarti bayi). Kalau dilihat dari bentuknya curug ini mempunyai 2 curug, namanya masing-masing Curug Orok dan Curug Kembar. Tapi aku gak tau yang mana curug apa.😛

Sedangkan Cikahuripan adalah nama kolam renang yang ada di sebelah kanan lokasi curug. Dari curug jaraknya hanya sekitar… kurang dari satu kilometer (?). Waktu aku ke sana, kolamnya sedang dikuras.

What goes down, will come up

Ini bagian yang terberat. Karena tadi kami turuuunn… maka untuk pulang kami harus naik. Capeeeeeee… Napasku sampe ngos-ngosan, ditambah sendi lututku ngilu. Ya sudah dikeureuyeuh (eh apa sih terjemahannya, “dicicil” ya?) saja. Sapa suruh tadi mo turun.😛

Begitu nyampe pelataran… semua langsung tepar! Masing-masing memilih bale-balenya untuk berbaring sambil mengatur napas dan mengistirahatkan kaki dan jantung yang dipaksa kerja rodi. Gak peduli dengan semut dan debu yang nempel di situ, hehehe.

Setelah rada tenang, kubuka mata dan kunikmati heningnya alam sekitar. Tiba-tiba, lho kok ada lagu danggut?! Wuaaaahh.. ngeganggu aja neh. Kayaknya si penjaga tiket yang nyetel tuh.😛

Ya sudah, akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Itu sudah jam 12-an. Tapi anehnya tengah hari gitu kabut malah turun lebih banyak. Waktu kami datang, dari pelataran masih bisa melihat curug di bawah. Sekarang udah gak bisa.

So, next advice for you: Lebih baik datangnya pagi ya ke Curug Orok. Seperti kami. Kecuali kalau niatnya mau pacaran, huahahaha.😉

Setelah dari Curug Orok, tujuan kami berikutnya adalah Kampung Naga. Dari informasi yang kudapat, di sini kita harus turun tangga juga untuk sampai di perkampungannya. Yang artinya, pulangnya bakal gak enak lagi nih.😦

Ada apa di Kampung Naga? Berapa banyak anak tangga yang harus ditempuh? Di mana naganya berada? Ada listrik/TV/telepon gak sih di sana? Boleh nginep gak? Boleh motret gak?

Hehe, lanjutannya menyusul ya… gak nyangka sih tulisan ini panjang juga.

– to be continued –

5 Comments
  1. Ebayy^_^ permalink

    Jadi emut Nuju SD, sekitar tahun 97′ curug orok masih sepi.
    abdi calik di daerah sumadra na. kan pun bapak damel di Perk.Papandayan. Lamun uih ka garut pasti kalangkungan
    hehehe…

  2. @Ebayy: weits.. asik atuh, mun pareng ka papandayan tiasa nganjang..🙂

  3. octhaviani permalink

    bagus ya ka ceritanya.

Trackbacks & Pingbacks

  1. What Goes Down Will Come Up « Another Sound of Music

Comments are closed.

%d bloggers like this: