Skip to content

Garut Bukan Sekedar Kota Dodol

December 12, 2008

Sudah lama Garut dikenal dengan dodolnya, makanan manis yang lengket itu. Well, sebetulnya Garut sendiri emang seperti dodol, lengket. Maksudnya, kalau udah pernah sekali ke sana, pasti lengket, pengen balik lagi. Gimana nggak, tempatnya masih sejuk, dingin, gak macet, dan punya banyak kekayaan alam. Nuansa sundanya masih khas terasa, baik di tengah kotanya (yang jam 9 malam udah sepi, hehe), apalagi di pedesaan.

Jauh-jauh hari sebelum aku memanas-manasi temen-temenku supaya mau ke Garut, aku udah bercita-cita untuk menginap di salah satu resort yang makin hari makin banyak aja. At least sekali dong! Masa orang Garut sendiri malah gak tau gimana rasanya.

Ini dia daftar inceranku:

Kampung Sampireun di Samarang
Mulih Ka Desa di Samarang
Danau Dariza di Cipanas
Kampung Sumber Alam di Cipanas
Sari Papandayan di Cisurupan

Sari Papandayan

SariPapandayan

Pilihan pertama sebetulnya Kampung Sumber Alam, karena udah pernah ngintip sebelumnya dan aku kabita banget! Namun apa daya, banyak orang lain yang satu selera denganku tapi lebih gesit. Bahkan sebulan sebelum hari H, waktu aku telepon ke Sumber Alam, udah fully booked! Maka aku ambil pilihan kedua yaitu Sari Papandayan.

Kenapa gak yang lain? Karena… Sampireun bosan, Mulih Ka Desa kejauhan, dan Danau Dariza kurang hijau. Sedangkan Sari Papandayan searah dengan tujuan wisata kami, tidak semahal Sampireun, serta dijamin hijau dan sejuk karena berada di dataran tinggi. Mungkin ini malah satu-satunya resort di Garut yang berada di ketinggian.

Untuk menuju ke Sari Papandayan, perjalanan lumayan lama. Dihitung dari rumahku lho ya (kecamatan Garut Kota). Kan habis berenang di Tirtagangga, kami mampir ke rumah dulu. Jalanannya cukup berkelok-kelok khas daerah pegunungan, tapi kondisinya bagus.

Btw, kata si Mang Wawan, di daerah mah emang jarang nemu jalan yang lurus, keriting semua. Iyah Mang, betul, soalnya di kampung kan belum ada rebonding. Huahahaha…

Kami tiba di tujuan sudah hampir jam 8 malam. Dan ternyata… waaaaaww… BAGUS BANGGGEEDDD!!

Karena sudah malam, lampu-lampu di sekitar lokasi sudah dinyalakan. Duuuhh.. romantisnya. Bungalow kami, tipe Edelweis, terdiri dari 2 kamar dan 1 teras. Tiap kamar ada kamar mandi sendiri-sendiri.

The best part is… outdoor bathroom!!!

OutdoorBR

Di salah satu kamar, kamar mandinya terbuka lho! Ada shower, ada kolam, dan ada tempat berendam yang terbuat dari bebatuan. Dan ada water heaternya, tentu saja.

Ah, bener, gak salah pilih nih!πŸ™‚

Udaranya dingiiiiinnnn banget. Puncak mah kalah deh. Jadi, ingat ya pemirsa, kalau Anda berniat bermalam di sini, jangan lupa bawa jaket SUPER TEBAL! Kalau perlu bawa selimut ekstra.

Oya, gak ada AC di sini. Dan jangan malu-maluin nanya ke petugas hotel apakah ada AC/gak ya. Nanti mereka akan jawab gini: “Wah gak ada Bu/Pak, udaranya udah dingin banget, malah mungkin Bapak/Ibu bakal minta pemanas ruangan.”πŸ™‚

Bungalow

Total bungalow mereka mungkin cuma ada 5 (maaf lupa memastikan) yang berada di tanah yang berbukit-bukit. Sebetulnya kalau kami datang sorean, pasti asyik ngiter-ngiter di situ. Ada kebun stroberi, ada saung-saung tempat makan di tengah sawah, ada lokasi outbound, ada kolam teratai (atau lotus?).

Esoknya, aku terbangun menjelang jam 6 pagi. Ngintip keluar jendela, huaaaaaaaa… gunungnya baguuuuusss…

Ternyata (waktu siang gak perhatiin), Sari Papandayan ini berhadapan persis dengan Gunung Cikurai, dan membelakangi Gunung Papandayan.

Cikurai

Dan pagi itu, duh Gusti, bagus banget pemandangan yang terpampang di depan mataku ini. Sampai terharu rasanya. Sudah berapa puluh tahun ya aku gak pernah menyaksikan panorama yang seindah itu.

So, saranku selanjutnya, buat kalian yang sempat bermalam di sini: SEMPATKAN BANGUN PAGI-PAGI. Gak akan nyesel deh, dijamin!

Lupakan ngantuk, abaikan dingin. Toh nanti bisa berendam air hangat. Pergi keluar, puaskan menatap siluet Gunung Cikurai di langit yang masih gelap tapi sudah terlihat berwarna biru. Uh, keren banget pokoknya. Betapa bersih dan heningnya.

Lalu langkahkan kaki menuruni tangga bungalow. Hirup udara segar. Jalan-jalan deh memutari area sekitar. Uuuhh, aku sambil nulis ini aja jadi pengen ke sana lagi.

Sekitar jam 7 pagi, sarapan akan diantar ke bungalow, disajikan di teras. Makan di teras sambil disuguhi pemandangan nan segar, sedaaappp…

TerasSP2

Eh ngomong-ngomong, waktu kita check-in, ada welcome drink lho. Boleh pilih mau bandrek, bajigur, atau jus buah. Aku rekomen jus stroberi. *thumbs up*

Yang unik dari tempat ini, gak ada telepon internal. Padahal kantor pengelola ada jauh di bawah. Jadi, kalau kita perlu apa-apa, kita mukul kentongan! Hihihi, lucu ya.πŸ˜€

Waktu check-out adalah jam 12 siang. Tapi karena jadwal kami jam 9 adalah ke Curug Orok, pasti gak keburu kalau check-out setelah ke curug. Akhirnya setelah mandi (tentu saja di outdoor bathroom dongπŸ˜› ) dan sarapan, kami berkemas-kemas deh, meskipun pengennya pulang dari curug masih bisa leyeh-leyeh di sini.

Oya, untuk mengabadikan tempat seasyik ini, Debe dan Fera membuat video. Nanti kalau udah diedit, upload ke You Tube ah!πŸ˜€

Akhirnya, jam 8.30-an kami check-out dan melaju menuju lokasi berikutnya: Curug Orok. Kenapa dinamai demikian? Orok artinya bayi. Apa hubungan bayi dengan air terjun?

Nantikan edisi selanjutnya yaaaa…πŸ˜‰

– to be continued –

5 Comments
  1. Pengeeeen.ntar aja bulan maduπŸ˜€

  2. Aji permalink

    walaw … ngiming-ngiming i acara dolan ik … jadi pengen main kesana kemari …

    Ngomong2, foto-fotonya semakin bagus aja…

    *tuh .. dah tak comment disini … ;))*

  3. @achie: bener ya, bulan madu ke garut. ntar aku ngado paket bulan madu deh…πŸ™‚

    @aji: huahahahaa.. tenanan dicopas.πŸ˜› thanks. btw blogmu mbok diisi.

  4. reina permalink

    mba boleh tau ngga sewa bungalownya brp?coz gw ad rencana weekend ksana

Trackbacks & Pingbacks

  1. Curug Orok « Another Sound of Music

Comments are closed.

%d bloggers like this: