Skip to content

After The Party’s Over

November 17, 2008

Seharusnya ada peraturan yang melarang pesta pernikahan dilangsungkan hari Minggu malam, hehe. Kan cape tuh, terutama pihak pengantin dan keluarganya, karena gak sempat istirahat berhubung esok harinya sudah harus bekerja lagi.

Sekarang ini kepalaku senut-senut, meskipun tadi pagi sudah minum kopi untuk menemani sarapan yang enak banget di hotel Crowne Plaza tempat resepsi semalam. Mungkin seharusnya aku tadi minum kopi lebih banyak, sedangkan aku malah makannya yang lebih banyak, haha, gak mau rugi.

Secara umum pesta pernikahan itu menyenangkan. Tapi setelahnya yang biasanya kurang asik. Musti packing dan unpacking tas/koper, kunjung sana-sini (untung hari ini tidak), antar sana-sini. Oya, dan sebelumnya, gosip sana-sini. Pokoknya repot deh!

Apalagi kalau ada kejadian tak terduga, seperti:

MOBIL KAMI TABRAKAN..

… dengan taksi. Ini adalah kasus tabrakan yang kedua kalinya. Tabrakan yang pertama dulu juga sama, after the party. Hiks.😦

Aku gak tau deh siapa yang salah tadi, apakah mobil kami, atau taksinya (atau si motor yang juga terlibat tapi “beruntung” bisa langsung kabur sehingga gak terlibat kerepotan setelah tabrakan). Yang jelas mobil kami rusak ditabrak taksi, sedangkan si taksi rusak ditabrak motor, tapi si sopir taksi (malah) meminta kami yang menanggung kerugian dia.

Kalian tau gak? Sulit sekali untuk punya hati yang lurus dan tulus di Jakarta ini. Di jalanan Jakarta, kalau kamu gak beringas, kamu kalah. Prinsip benar-salah, gak akan berlaku di jalanan. Yang jadi poinnya bukan siapa benar siapa salah, melainkan siapa kuat ngotot itu yang menang.

Pada akhirnya tadi kami terpaksa membayar si taksi. Hanya karena kami memburu waktu (adikku harus ke bandara), dan (mungkin) karena rasa tidak percaya kami terhadap aparat hukum (kalau diurus ke polisi nanti malah mobilnya ditahanlah, bayar uang ke polisilah, dll). Oya, dan mungkin karena kami semua perempuan (kecuali sopir kami yang notabene bukan pembuat keputusan). Ugh! I really hate it.

Aku gak suka perasaan lemah tadi. Gak punya pegangan dan pengalaman (hehe, bukan berarti harus nyobain tabrakan berkali-kali supaya punya pengalaman). Kalah posisi (secara lagi gak punya banyak waktu), sehingga kalah gertak. Lagi-lagi terkondisikan untuk mengambil cara tercepat saja.

Sulit untuk tulus maksudnya gimana? Ya bete aja jadinya sama semua pihak. Sama sopir kami (kok ya dua kali kasus tabrakan, sopirnya sama), sama si sopir taksi, sama si pengendara motor. Nyesel juga sama diri sendiri, krn aku td duduk di depan, tp kok gak perhatiin jalan; coba klo perhatiin mungkin sempet kasih peringatan. Dan sebel sama kami semua karena kami sempat berdebat dulu.. tapi ujung-ujungnya mengalah juga.😦

From → curhat

6 Comments
  1. kalau malam minggu gimana ?
    boleh nggak

  2. malam minggu sangat dianjurkan🙂
    makasih dah mampir sini ya.

  3. teteh……aku pernah ngalamin juga lho kecelakaan mobil. sampe guling2 bahkan. hehehe. untung masih idup.oia…..blog aku ganti di http://aciteritory.co.cc tq

  4. teh perasaan aku tadi dah ninggalin komen ada gak ya…..aku bikin postingan tuh, terilhami dari cerita yang ini. btw, blog aku ganti jadi http://aciteritory.co.cc

  5. wah kok komennya moderated, Ci… kudu di-approved heula. padahal mah sy gak pernah set moderate comments da.

  6. hehehe….putu saya ada di blog teteh. asa atoh kieu. kakirim 2 kali berarti bener nyak? yang kedua mah gak pake approve teh. kapan ateuh ketemuan lagi?

    @aci: lebih banyak lagi di Flickr, Ci. hayu aja sok kapan kita janjian lagi. next time giliran aku yg disamperin yah, hehe.

Comments are closed.

%d bloggers like this: