Skip to content

Membongkar Pikiran

September 4, 2008

Waktu saya sidang tugas akhir semasa kuliah dulu, ada satu moment yang masih terus saya ingat sampai sekarang. Entah kenapa gak pernah lupa. Menjelang akhir sesi sidang, setelah presentasi dan setelah dihajar berbagai pertanyaan oleh para penguji, pembimbing kami melemparkan 1 ujian terakhir:

“Jelaskan dengan singkat, padat, apa perbedaan antara ‘designing’ dengan ‘analyzing’! Coba kita lihat apa memang kalian betul2 paham dengan bidang ini, atau cuma sekadar tau kulit-kulitnya doang. Pikirkan dulu baik-baik, silakan berdiskusi. Kalau jawaban kalian asal, saya gak bakal meluluskan kalian.”

Oh btw, saya ngambil mata kuliah Ilmu Komputer, dan tugas akhir kami berkelompok yang terdiri dari 3 orang.

Aduh, Mak! Sempet panik tuh, soalnya itu pertanyaan yang di luar dugaan, gak ada dalam skenario kami bertiga.

Tapi betapa surprise-nya saya, ketika teman saya Anna dengan muka cerah berbisik ke kami berdua bahwa dia tau PERSIS jawabannya. Itu semalam pas banget bagian yang aku baca di buku X, katanya.

Maka dijawablah begini:

“Pak, designing itu proses membangun dari yang tidak ada menjadi ada, menyusun bagian-bagian kecil sehingga terbentuklah sebuah produk. Sedangkan analyzing adalah sebaliknya, yaitu ‘membongkar’ barang/produk yang sudah ada menjadi bagian-bagian kecil -yaitu unsur-unsur yang membentuk produk tsb- untuk kemudian disusun ulang menjadi produk yang baru.”

Selama beberapa detik, hati ini cuma deg-deg-deg-deg menunggu reaksi pembimbing kami.

“Yes! Betul sekali. Jawaban yang sempurna. Kalian lulus!”

HOREEEEEEEEE…..😀

So, mungkin karena intensnya pengalaman tsb, sampai sekarang teori itu masih aja saya ingat. *cuma sayang, saya lupa itu ada di buku apa. yg jelas si bapak dan temen saya tnyt baca buku yang sama, hehe*

Nah, sekarang ini saya sedang berusaha melakukan analisis. Tapi bukan terhadap sebuah produk. Melainkan terhadap isi otak saya. Dan ternyata, gak gampang euy! Saya gak terbiasa. Bahkan mungkin malah belum pernah secara sungguh-sungguh saya lakukan. Selalu aja cuma sampai setengah jalan.

Untung saya udah gak ketemu dosen saya itu lagi. Bisa-bisa nanti dianulir kelulusan saya waktu itu, kalau dia tau jawaban itu baru sampai sebatas teori, belum saya praktekkan dengan sesempurna jawabannya, hehehe.

From → curhat

Comments are closed.

%d bloggers like this: