Skip to content

Motret Itu Asyik

June 29, 2008

Di tahun 2005, aku memutuskan untuk beli camdig, supaya bisa motret acara kawinan Sisca (yang nota bene kawinan pertama dalam keluarga kami, meskipun diawali justru oleh anak paling bontot, hehe). Sejak itu, aku menjadikan diriku sendiri sebagai tukang potret dalam setiap acara keluarga dan kawinan teman dekat.

Eh, intermezzo sedikit. Waktu Sisca merit itu, salah seorang tante menyarankan untuk mencuri hiasan kembang penganten perempuan supaya “ketularan” menikah (btw, kuncinya adalah mencuri lho; artinya harus diusahakan supaya sang penganten gak nyadar kembangnya dicomot). Nah, alih-alih nyolong kembang, aku sih nyolong motret kembang. Alhasil efeknya jadi menyimpang, hahaha, bukannya ketularan menikah tapi ketularan motret pernikahan.😛

So, inilah daftar pernikahan yang telah kujadikan ajang belajar (berani) motret:

  1. Sisca dan Handoko: 17 Desember 2005
  2. Linda dan suami: 7 Mei 2006
  3. James dan Sherly: 25 Juni 2006
  4. Andi dan istri: 2 Desember 2006
  5. Riko dan istri: 14 Januari 2007
  6. Bambang dan Dewi: 24 Februari 2007
  7. Siucing dan Aris: 6 Mei 2007
  8. Woro dan suami: 2 Juni 2007
  9. Olin dan Kaukau: 7 Juli 2007
  10. Vian dan Paula: 14 Juli 2007
  11. Sieny dan Deni: 17 November 2007
  12. Amel dan Surya: 2 Februari 2008
  13. Danny dan Mariana: 15 Juni 2008
  14. Dhanu dan Irene: ?
  15. Tammy dan Cipri: ?

Wiiihhh… udah limabelas!😀 Itu yang kawinan doang. Di antara itu ada 3 atau 4 acara keluarga yang foto-fotonya menambah penuh harddisk dan Flickr-ku. Sayang, sebagian hilang waktu harddisk-ku rusak.😦

Imbalan dari kegiatanku ini adalah, makin ke sini family dan teman-teman makin mengenalku sebagai fotografer *ehem*. Meskipun dalam hati sebetulnya malu disebut fotografer (secara ngerasa kemampuanku masih jauh di bawah fotografer asli), tapi aku senang karena cap itu membuka banyak jalan untuk mengobrol dengan orang yang baru kukenal. Dengan saudara jauh, dengan teman dari teman, dengan orang tua dari saudara yang itu, dengan para tamu, dengan besannya tanteku, dengan tukang potret dari petugas liputan resmi, bahkan dengan tukang-tukang ojek, para petugas di objek wisata, para abg yang sedang camping, penumpang di dalam angkot menuju tempat wisata, dan maaaaassiihh banyak lagi.

Menakjubkan, tau, menyadari betapa berbedanya manusia bereaksi terhadap seseorang yang menenteng-nenteng kamera – apalagi kamera SLR yang kelihatannya profesional seperti milikku.😀

Keuntungan lainnya, karena sering dimintai tolong motret di acara kawinan, aku hampir selalu dijahitkan gaun pesta. Iya, seragam panitia. Jadi hanya dalam 3 tahun, aku yang tadinya punya gaun tidak lebih dari 2 helai, sekarang punya lebih dari 10 gaun pesta! Sampe bingung itu baju-baju mau dipake ke mana lagi. *cieee.. sombong*

Tapi efek kurang menguntungkannya juga ada, yaitu… fotoku sendiri jadi jarang. Udah cantik-cantik, tapi fotonya paling sedikit, hehe. Trus kalau keasyikan, selera makan jadi berkurang, padahal makanan di resepsi tuh enak-enak. Begitu udah pengen makan, eh yang enak-enak udah habis.😛

Kalau yang paling menyebalkan, itu kalau bertemu satpam yang melarang motret! Ugghh, mood jadi rusak kalau terbentur kejadian begitu.

Tapi tetep lebih banyak asyiknya kok. Sekarang rasanya ada yang kurang kalau kondangan gak bawa kamera. Dan belakangan ini makin enjoy lagi karena dapet mainan baru. Ternyata kegiatan pasca motret itu menarik juga dan mulai bikin aku lupa waktu.

Oya, bulan Agustus nanti ada 2 pernikahan lagi. Nantikan liputannya.😀

From → fun, saksimata

Comments are closed.

%d bloggers like this: