Skip to content

Bikin Keramik part 2

March 30, 2008

DSC 5019 3Part 1-nya yang mana? Hehe, yang ini nih. Ceritanya, hari ini aku ke Museum Keramik lagi. Awalnya cuma mau ngambil keramik hasil bikinan 2 minggu lalu yang katanya hari ini udah selesai dibakar. Ternyata sih belum dibakar. Rupanya tungku pembakarannya ada minimum quota, jadi harus tunggu tambahan keramik baru.

Untungnya kedatanganku gak sia-sia. Aku dan Anna malah berkesempatan praktek bikin keramik pake alat putar betulan! Horeee!! Seneng banget. Waktu bareng Sahabat Museum memang gak sempat, secara pesertanya lumayan banyak sedangkan alatnya hanya ada 2. Untuk workshop tarifnya Rp 15.000 per orang.

Pertama, si Mas petugasnya nyontohin dulu. Gini nih step-nya:

1. Duduk di kursi, kaki kiri diam bertumpu, kaki kanan mengayuh lempengan besi (di bawah) sampai putaran yang dihasilkan cukup kuat.

2. Ambil gumpalan tanah lempung, kepalkan, banting di tengah-tengah alas piringan datar.

DSC 50093. Basahkan telapak tangan sedikit saja, pokoknya asal lembab, supaya tidak lengket.

4. Sementara piringan terus berputar (jaga supaya terus berputar!), tangkupkan kedua telapak tangan di seputar tanah lempung sedemikian rupa sehingga sang gumpalan membentuk semacam kubah simetris tepat di tengah-tengah piringan. Istilah si Mas-nya sih latihan bikin center.

5. Setelah rata, tahap berikutnya adalah melubangi. Letakkan ibu jari tepat di puncak tengah kubah, beri tekanan secukupnya sehingga makin lama terbentuk lubang yang dalam, tapi jangan sampai ke dasar.

6. Gerakkan ibu jari sedemikian rupa sehingga lubang membesar dan sisi kubah naik sehingga menjadi dinding.

DSC 50287. Bentuk sesuai selera. Mau mug atau gelas atau mangkuk atau kendi atau vas, dsb.

8. Setelah bentuknya jadi, finishing deh. Dihalusin gitu deh, pake spons, benang, dan bbrp alat bantu lainnya.

Melihat si Mas Rinto ini bekerja sih kayaknya gak susah. Step-step di atas dilakukan hanya 5 menit-an, langsung jadi deh. Hmm, oke kalau gitu. Mari kita mulai.

Duduk, banting, basahin dikit, kayuh. Wah berat juga ternyata. Kayuh, kayuh, kayuh… ayo muter dongg… Alamak, ternyata gak seringan kelihatannya. Jantung mulai berpacu, hahaha, karena jarang olahraga.πŸ˜›

OK deh, akhirnya dapat kecepatan yang cukup. Mari mulai membentuk………..

……

……

hossh.. hoshh.. hosss… wah begitu tangan mulai membentuk, perputaran lempengannya jadi dapet tahanan, so kaki harus terus mengayuh. Dan ternyata, berat euuyyy.. pegeeeeelll… jantung makin berpacu, muka memerah, keringat bertetesan. Udah kayak olahraga aja!

Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya berhasil mendapatkan bentuk kubah yang pas. Tantangan selanjutnya adalah melubangi.

Tempelkan ibu jari, tekan.. tekan.. aarrggh..!! Meleset! Meleot deh. Uuuhh.. harus mulai lagi dari awal.😦

Jadi sodara-sodara, harap camkan kejadiannya. Lempengan alas tsb kan terus berputar searah jarum jam. Tangan kita stay melingkar di permukaan dan sisi tanah lempungnya. Artinya tangan kita secara alami akan bergesekan (dengan tanah lempung) berlawanan arah dengan putaran lempengan. Jadi kalau terlalu menekan, terjadilah crash, dan hancurlah bentuk yang sedang kita usahakan.

Ya sudah, ulang lagi deh. Bikin center dulu. Kayuh lagi Maaanggg… hosh hosh hoshhh…

Sip, dah cukup. Bikin lubang. Tekan, tekan, tekan, tekan. Kali ini lebih hati-hati, sedit demi sedikit. Mulai sadar bahwa cara seperti demo si Mas tadi itu gak mungkin aku ikuti, hehe. Lumayan, bentuknya mulai kelihatan. Aku berusaha meninggikan temboknya dengan cara memainkan tekanan ibu jari. Makin lama makin tinggi… lalu tiba-tiba… aarrgghh… terjadi lagi!!! Grrhhhhh!!!!!!

Uhh.. rusak lagi, rusak lagi! Gemesss deh!!

So, ulang lagi… coba lagi… pas hampir jadi.. meleset lagi. Aduh, capenya. Proses jatuh bangun ini terjadi berkali-kali, lebih dari 5 kali. Kakiku udah pegeeeell banget.

Tapi berbekal satu tekad gak mau kalah (atau gengsi? hehe. secara ditonton beberapa pengunjung euy) aku ogah nyerah. Meskipun sudah 2 jam berlalu! Pfffh.. it IS so hard. Padahal si Mas Rinto cuma butuh 5 menit! Jadi, disemangati oleh sang instruktur dan para penonton (caileehh..) aku coba terus. Masa sih gak bisa-bisa.

DSC 5016Daaaann… persis sebelum hujan turun, akhirnya aku berhasil membuat bentuk yang aku inginkan. Masih belum sempurna, dalam arti bentuknya tidak persis bulat, tidak terlalu halus, dan tidak banyak lekukan, serta masih dibantu Mas Rinto untuk finishing-nya. Tapi aku cukup puas berhasil mengalahkan sang putaran yang berusaha menghancurkan dinding rapuh yang sedang kubentuk.πŸ™‚

Di bawah ini hasil akhirnya, setelah ditempeli hiasan bunga-bungaan, siap untuk dibakar.πŸ™‚

DSC 5022 2

Oya, kalau kalian mau tau, begitu turun dari bangku untuk jalan ke tempat cuci tangan, hayaahhh.. dengkul ini lemes bangeeet. Sampai sekarang masih berasa nih efek kerja keras tadi siang, hehe.

Anyway, ini hari Minggu yang berkualitas. Belajar telaten dan bersabar untuk hasil yang memuaskan.πŸ™‚

Mudah-mudahan 2 minggu lagi atau sebulan paling lambat, keramikku sudah jadi. Nanti tinggal pamer, hehe.

From → fun, jalan-jalan

Comments are closed.

%d bloggers like this: