Skip to content

Sekuntum Puisi

March 14, 2008

Ini hanya peristiwa bunga-bunga,
jatuh di tanah dan membusuk saat hujan menyapunya,
bahkan tak seorangpun sudi mengingat bau kewangiannya ….

Ini hanya peristiwa sederhana,
bayangan bunga menjadi kekal begitu kau pungut kelopaknya,
dan aku sama sekali tak bisa lupa ….

Ini hanya peristiwa sederhana,
dan aku telah mengabadikannya,
menyimpan di kedalaman dada ….

Saat-saat rindu
saat-saat kemurunganku
kujejaki kenangan
tak sampai-sampai
timbul tenggelam
dalam sunyi

Dialog kita
adalah bantuan dari luar,
dirambah waktu-waktu,
diputar dalam diam

Dialog kita
adalah gumpalan kata yang tersekat,
dalam kumpulan sapa,
dalam gemunung rasa,
tiada tersalur;
jadi gugur !

Dialog kita
adalah kebisuan;
tiada daya !

Mari berbincang denganku
tentang kupu-kupu yang hinggap di rambutmu, lalu terbang
tentang semut yang luput dari tangkapan
di sini saja, di sini
di tengah hening kantin kampus kita
sementara di dalam ruang yang sunyi dan lenggang
teman-teman sedang sibuk ujian, memikirkan masa depan

Mari berbincang denganku
tentang bintang yang jatuh dari lingkaran
tentang matahari yang enggan bangun
di sini saja, di sini
di alas embun fajar ini
kupikir, itupun masa depan juga

Berjalanlah seperti kemarin, Noy ….
jangan mengenang masa lampau
kalau ternyata hanya mengingatkan ‘ku

Tertawalah seperti kemarin, Noy ….
seperti debu-debu yang mentertawakan kita sepanjang perjalanan

 

(Bandung 1992-1995, puisi tanpa judul, yang diambil tanpa sepengetahuan sang pengarang puisi)

And now, behind the scene….

Waktu tadi sedang bongkar-bongkar arsip dalam rangka mencari buku tabungan, tanpa sengaja nemu dua lembar kertas berisi puisi ini. Aku sendiri udah lupa bahwa pernah nyimpen kertas ini. Tapi begitu dibaca aku langsung ingat. Eh gak ingat banget sih, rada-rada lupa detilnya. Yang pasti aku ingat adalah siapa penulisnya dan untuk siapa aku pikir puisi ini ditujukan. Maksudnya, waktu aku pertama kali baca puisi ini dulu, aku punya dugaan siapa itu si “Noy”. So, 2 orang itulah yang aku ingat waktu aku nemu puisi ini barusan.

Nostalgia sedikit ah… itung-itung ngetes derajat kepikunan, hehe…

Kalau ingatanku gak salah, penulisnya ini adalah seniorku di kampus. Sedangkan si “Noy” yang aku duga itu adalah temanku satu angkatan. Seniorku jurusan Elektro, temanku di Energi. *aku di mana? di Komputer.πŸ˜‰ * Kenapa aku pikir ini untuk temanku? Karena temanku panggilannya “Non”. Jadi kupikir mungkin “Noy” itu dari “Non” yang disesuaikan supaya lebih… intim? puitis? rapuh? anonim? Tapi ya itu cuma dugaan yang tidak pernah sempat terbukti. Bisa jadi malah ditujukan buatku, secara aku lahir bulan September, huahahahaha… gak nyambung….

Anyway, si senior ini tuh ketua GEMA di Bandung masa itu. Keren deh pokoknya. Agak pendiam, tapi aktivis. Pinter banget. Aku belajar bikin TAB di Word tuh dari dia. *ya ampun, betapa menakjubkannya otak kita itu ya, bisa-bisanya hal sedetil ini tergali lagi dari memori* Orang Bandung, tapi demi kepraktisan sempat kost di deket kampus bareng temannya satu angkatan, yang mana kamar kost-nya menjadi basecamp kami saat itu. Naaahh, dari kamar inilah sepertinya aku mencuri puisi ini.πŸ˜€ Makanya gak berani nanya-nanya untuk memastikan faktanya.

Sedangkan temanku si “Non” ini, cewek rada tomboy yang mandiri dan praktis. Sebetulnya dia cantik, badannya juga tinggi langsing. Tapi yah di kampusku memang jarang sih cewek yang feminin. Saking jarangnya, pernah sekali aku pake rok lewat di depan anak-anak yang lagi nongkrong, langsung diteriakin, “Eeh.. wooyy.. ada cewek pake roookk…” Halah!πŸ˜›

Temanku ini juga orang Bandung, tepatnya Cimahi. Aku gak bisa terlalu akrab dengan dia, karena aku rada-rada takut sama dia, hehe. Bukan takut gimana, tapi takut kena celetukan-celetukan dia yang kadang nyelekit. Gaya ngomongnya memang rada ceplas-ceplos. Tapi justru sifat mandiri, ceplas-ceplos, dan sedikit tomboynya itu yang menarik. Sejujurnya, aku malah kagum dengan sifat dia yang seperti itu. Cewek perkasa, hehe.

Suatu hari, temanku ini ultah, pas weekend atau pas tanggal merah kayaknya. Rencananya aku dan teman-teman mau main ke rumahnya. Janji punya janji, tunggu punya tunggu, eh ternyata pada gak bisa. Yaaahh.. kok gitu sih.. gimana nih.. udah beli kado.. masa batal. Tiba-tiba muncul ilham, TING!! Ajak kakak senior itu aja. Pasti mau. Dia kan baik. Lagian, masa sih gak mau. Dari puisinya kan sepertinya…. OK! Akhirnya, kucluk-kucluk-kucluk, eng-ing-eng, berangkatlah kami berdua ke rumah si “Non” di Cimahi setelah hari sudah sore menjelang malam. Sampai di rumahnya, halo halo.. surprise! kami datang! hehehe. Disuguhi kue bolu, nyam-nyam. Trus.. trus.. nah abis ini lupa deh, gimana cerita pulangnya.

Demikianlah sekelumit cerita latar belakangnya. Duh jadi pengen nostalgia deh. Pertanda udah tua nih, hehe.

Moga-moga kedua temanku itu (dan yang lainnya juga) entah dengan cara bagaimana menemukan entri ini di sini. Dengan satu dan lain hal, puisi tsb telah berhasil menyentuh hatiku waktu itu. So, aku cuma mendokumentasikan saja di sini, karena terlalu sayang kalau hilang begitu saja.

Juga untuk mengenang masa-masa menyenangkan bersama semua teman di komunitas tsb selama 3 tahun kuliah waktu itu. The moment I share with you guys is one of the best moment in my life. *cieeehhh*

Btw, selain nemu puisi ini aku juga nemu kamera pertamaku! *ternyata kamera pertamaku bukan Canon S-60, melainkan Fuji MDL-105; wah kok bisa lupa ya* Buku tabungannya malah belum ketemu, hahaha.πŸ˜›

 


Dedicated to: Robby and Noni

From → hatirasa

One Comment
  1. hiakakakakka … dasar wanito …. mau cerita apa … nyambungnya ke mana …. hasilnya … buku tabungan tetep nggak ketemu … kepiye …. :)) :))

Comments are closed.

%d bloggers like this: