Skip to content

Bila Si Melankolis Merasa Dikhianati

January 28, 2008

Kamu pernah dikhianati orang?

Sampai dengan tahun lalu, aku bakal jawab “gak pernah” untuk pertanyaan itu. Sebuah anugerah yang aku syukuri karena itu berarti lingkaranku terdiri dari manusia-manusia yang akhlaknya baik.🙂

Baru beberapa bulan belakangan saja aku berkesempatan mengalami seperti apa perasaan dikhianati itu.

Eh, btw, jangan serem dulu dengan term “dikhianati” ya.🙂 Karena sama seperti perasaan-perasaan lainnya, perasaan ini juga ada tingkat-tingkatannya, dari yang dalem (sampe merangsang dendam atau hasrat bunuh diri, hehe) atau yang “sekedar” menimbulkan amarah yang sehat.

Ada yang bisa nebak? Ya! Betul sekali. Lagi-lagi ada karyawan yang resign dengan seenaknya, gak pake tata krama. Mohon dicatat! Bukan resign-nya yang aku permasalahkan, tapi CARA-nya. Masa besok mau keluar ngomongnya baru hari ini??

“Bu, saya mau resign.”

“Oh, kenapa?”

“Saya diterima di tempat lain.”

“Sudah kamu pertimbangkan masak-masak?”

“Sudah.”

“Is there anything I can offer you to stay?”

“Gak ada.”

“OK, tapi sebagaimana aturan perusahaan, resignment harus minimal 2 minggu sebelumnya. Jadi kamu baru boleh keluar 2 minggu lagi.”

“Gak bisa Bu, besok saya udah langsung kerja di tempat baru.”

“Gak boleh. Kamu kan tau peraturannya.”

“Tapi saya memaksa.”

“Kalau gak diijinkan pun ya terserah, saya kabur aja. Toh Ibu gak bisa melakukan apa-apa.”

… !!!*&*^#&$#!#!!#!!!#@!!

Memang percakapan sesungguhnya gak seperti itu. Tapi sama saja, intinya ya seperti itu. Memang ada permintaan maaf. Memang ada pengakuan dari ybs bahwa ybs menyadari perbuatannya tidak etis. Tapi tetep aja dilakukan dengan sepenuh kesadaran.

Can you see what I see?

Apakah sebuah maaf dan pengakuan dosa bisa mengeliminasi perasaan kecewa, marah, dan perasaan dikhianati? Apalagi karena segera setelah itu orang ybs sudah gak ada di sini. Gak ada kesempatan untuk menawarkan penyesalan, penebusan, atau pembuktian bahwa di lain waktu tidak akan mengulangi hal yang sama. Persis kayak lagunya Kris Dayanti: “I’m sorry. Good bye!” Perkara kamu mau sakit hati kek, marah kek, repot kek, apa kek, udah bukan urusan saya lagi.

ITU adalah fakta implisit yang sebenarnya. ITU yang membuat aku merasa dikhianati. Karena ketidakpedulian itu. Padahal awalnya masuk dengan baik-baik, terpilih dari antara calon-calon yang lain, selama bekerja juga diperlakukan dengan baik dan berlaku baik. How come they don’t care about it? Bagaimana bisa mereka melakukannya begitu saja tanpa beban? Tanpa berusaha memperjuangkan sedikitpun waktu untuk resign dengan selayaknya?

Betul-betul kacang yang lupa kulitnya!

*tarik napas, kendalikan emosi*

Di sisi lain, aku juga sadar banget bahwa semua ini berarti AKU SUDAH SALAH MENILAI ORANG. Aku masih bodo dalam urusan membaca karakter yang tidak terlihat.

Lebih jauh lagi, yang bikin frustasi, sampai saat ini aku gak tau cara apa yang efektif supaya hal seperti ini gak terjadi lagi, atau kalaupun terjadi, aku punya kekuatan untuk memenjarakan memaksa berhasil mendapatkan jatah 2 minggu yang memang hak perusahaan. Sungguh menyakitkan hati, karena aku betul-betul SADAR bahwa aku gak bisa berbuat apa-apa kalau ada yang kabur seperti itu (lagi).

Anyway, waktu aku menilai perasaanku sendiri.. hehe.. bener-bener tipikal si melankolis.😀

From → curhat, opini

One Comment
  1. madamebuTerfly permalink

    makanya bu, laen kali kalo mau interview ajak2 aku dunk…. hehe…

Comments are closed.

%d bloggers like this: