Skip to content

Jangan Hanya di Mulut

November 15, 2007

Dalam beberapa kali kesempatan, saya bertemu jenis orang yang sepertinya menganggap bahwa mengakui sesuatu (perbuatan salah) itu sudah cukup.

Mungkin akan lebih jelas kalau saya langsung kasih contoh.

Dulu, jaman saya masih muda, pacar saya mengaku bahwa dia akrab dengan seorang cewek lain (tentu saja pengakuan ini terungkap setelah saya investigasi, mana mungkin maling mau ngaku dengan sukarela ya? hehe ). Ketika saya bereaksi marah, dia tidak mengerti mengapa saya marah, kemudian membiarkan saya meng-handle sendiri perasaan saya, “Ya terserah kamu mau menganggap apa, yang penting kan aku udah jujur.”

Contoh lain, di dunia maya waktu masih hobi chatting, saya pernah berpapasan dengan seseorang yang dengan entengnya mengajak selingkuh (dia sudah beristri). Lalu ketika saya mengutarakan keheranan saya (ya, saya heran bukan marah, karena saya takjub kok ya jaman sekarang ini sepertinya hal-hal yang begitu gak tabu lagi, sehingga “kekurangajaran” seolah-olah bertransformasi menjadi “keberanian melanggar peraturan”), lagi-lagi orang itu berkilah: “Ah aku sih gak mau munafik, dari awal aku udah bilang aku punya istri, tapi kalau memang suka dan mau sama mau, kenapa nggak?”

Belum ada seminggu yang lalu, setelah saya berminggu-minggu jengkel karena tetangga sebelah saya selalu ribut di tengah malam, untuk kedua kalinya saya menegur dia. Kali ini bukan sekedar menegur, tapi sudah membentak. Dan tau tidak? Si tetangga ini bukannya menunjukkan sikap menyesal, malahan balik menyalahkan saya yang bersikap keras, “Kan ini udah saya kecilin suaranya, Mbak. Kalau Mbak ngomongnya baik-baik saya kan nerimanya juga enak. Gak usah bentak. Kalau Mbak keras, saya juga bisa keras.”

FYI, waktu saya menegur pertama kalinya, saya tidak bersikap keras. Saya sudah “menegur dengan baik-baik”. Tapi ternyata kelakuannya tidak berubah.

Menerima serangan balik si tetangga tsb, tentu saja saya semakin marah. Tapi selain marah, saya juga gak habis pikir dengan jalan pikirannya. Kok dia berpikir bahwa dia sudah berbuat benar dengan mengecilkan suara musiknya saat itu, sehingga tidak pada tempatnya kalau saya kesal meskipun dia sudah mengabaikan teguran pertama saya.

Kasus yang terakhir adalah kemarin.

Seorang anggota tim saya secara mendadak mengundurkan diri. Betul-betul mendadak, karena dia baru bilang after lunch, bahwa besok (hari ini) dia sudah tidak akan masuk. Keputusan dia sudah final, jadi bukan merupakan hal yang bisa dinegosiasikan lagi.

Yang mengherankan saya, dia berulang kali mengakui bahwa dia malu. Malu karena pernah berbohong ijin pergi ke kampus (padahal mengikuti test di perusahaan lain). Malu karena mendadak mengundurkan diri tanpa memberi kesempatan untuk mempersiapkan pengganti.

“Saya malu, saya tidak bangga atas kelakuan saya. Tapi jujur saya akui bahwa saya juga ingin mementingkan diri sendiri (yaitu meraih cita-citanya bekerja di tempat baru).”

Weleehhhh…!!!

I’ll tell you the truth. Cuma bicara di mulut itu sama sekali tidak cukup, Jenderal! Yang penting saya sudah jujur, yang penting saya gak munafik, yang penting bicarakan baik-baik, maaf saya malu. Itu semua bull-shit! NATO! No action talk only .

Anda menyesal, Anda menyadari kesalahan Anda, fine, itu berarti hati nurani Anda masih bekerja dengan baik. Tapi kalau berhenti sampai di mulut saja, apa gunanya? Siapapun bisa dengan gampangnya mengatakan apapun. Yang membedakan penyesalan yang sungguh-sungguh dengan yang asal bicara adalah TINDAKAN yang diambil setelah mengucapkan penyesalan tsb. Buktikan dong, buktikan!

HANYA jujur MENGAKUI akrab/selingkuh dengan WIL/PIL tidak akan membuat luka yang ditimbulkannya jadi hilang, apalagi kalau setelah itu masih meneruskan hal yang sama. Harusnya BERTINDAKLAH yang benar, yaitu menjaga jarak dari WIL/PIL itu.

HANYA MENYADARI bahwa apa yang sedang Anda lakukan ini salah dan merugikan orang lain, tapi tetap melanjutkan niat Anda tanpa peduli bagaimana orang lain membereskan kekacauan tersebut, tidak akan membantu sama sekali. Mestinya tunjukkan niat baik dengan mau berkorban sedikit.

Ada pepatah yang mengatakan: “Orang dinilai dari perbuatannya”. Betul sekali!

So, jangan hanya di mulut. Instead, think about this: “apa yang harus saya lakukan untuk memperbaiki kekacauan yang sudah saya buat?”.

Apa yang diucapkan mulut saja tidak akan semerta-merta menghalalkan perbuatan yang memang sudah salah.

From → hatirasa, opini, saksimata

One Comment

Trackbacks & Pingbacks

  1. Bila Si Melankolis Merasa Dikhianati « Another Sound of Music

Comments are closed.

%d bloggers like this: