Skip to content

Demi Sebuah Kerinduan

November 7, 2007

*ciee.. romantis ya judulnya, hihi*

Di usiaku yang udah kepala *teeett.. sensor* ini, aku bersyukur karena masih bisa mencicipi lagi salah satu kegiatan favoritku semasa muda dulu, yaitu “jalan-jalan” ke tempat wisata alam. Yah, gak seratus persen sama sih, dulu jauh lebih berat medannya, tapi tujuan akhirnya yaitu menikmati segarnya alam bebas masih sama.

Wisata di Garut akhir bulan lalu, seperti membuka keran kerinduanku pada wisata alam. Dan mengamini teori The Secret, alam semesta ini memang sepertinya bergerak untuk mewujudkan keinginanku. Buktinya, kok ya bisa-bisanya beberapa hari setelah pulang dari Garut, aku beli Intisari yang ada artikel tentang beberapa curug di daerah Bogor. Trus kok pas punya temen yang hayu aja tanpa ba-bi-bu mau aku ajak jalan tanpa ngeribetin tetek bengek persiapan dll. Trus kok ya bisa pas hari H itu perutku adem ayem gak sakit, padahal sehari sebelumnya sakitnya minta ampun (lagi AV hari kedua lho!).

Ya sudah, cukup pembukaannya ya, hehe. Jadi inilah liputan perjalananku ke Curug Cilember.

Wana Wisata Curug Cilember berada disebelah kiri jalan jalur Ciawi – Puncak, tepatnya di Cisarua Β± 15 Km dari pintu tol Gadog (Jagorawi). Berbekal informasi yang minim (sebetulnya gak minim juga sih, wong udah googling 2 hari sebelumnya, dapet artikel yang jelasin rutenya. tapi dasar aja males ngapalin, hehe), hanya dengan kendaraan umum, kami ketemuan di stasiun Bogor. Keluar stasiun tinggal tanya orang sekitar situ aja, mau ke Curug Cilember naek apa. Gampang toh. Jadi sebetulnya aku gak usah tulis di sini ya angkotnya apa aja? Toh percuma, mungkin yang baca juga akan mengikuti cara kami yaitu langsung nanya di Bogor daripada susah-sudah ngapalin, hihihi.

Eh tapi demi kelengkapan jurnalistik ya sudahlah aku tulis aja.πŸ˜› Ini dia.

Jakarta – Bogor : naik kereta Pakuan Express yang jam 7.44 pagi dari Gambir (kalau mau lebih pagi silakan naik KRL dari Stasiun Kota). Kalau pake Pakuan Express siapin jaket ya, soalnya AC-nya dingin banget. Oya, harga tiket Pakuan Express Rp 13.000,- sedangkan tiket KRL Rp 2.500,- (jauh banget yaaaaaa.. ya iyalah, kondisi keretanya juga bagai langit dan bumi – lihat foto).

pakuankrl

Stasiun Bogor – Sukasari : naik angkot 02 yang setrip bawahnya merah. Bogor tuh angkotnya ajaib, nomor sama tapi bisa beda trayek. So, teliti sebelum naik angkot. Trus kayaknya hanya di Bogor deh yang kursi depannya cuma boleh diisi 1 penumpang, biasanya kan 2 orang yah.

Sukasari – Cisarua : naik angkot warna biru jurusan Cisarua (gak ada nomor!). Turun di daerah yang dikenal dengan nama USU. Katanya dulu itu hotel terkenal, tapi sekarang udah gak ada. Tapi orang Bogor pasti pada tau deh.

USU – Cilember : naik ojek deh, bayar Rp 10.000 per orang.

penunjukjalanSepanjang perjalanan naik ojek aku menjumpai beberapa villa. Ih gak nyangka deh di daerah situ banyak villa, bahkan salah satunya punya kolam renang. Udara cukup dingin, apalagi saat itu habis hujan. Buat yang berencana liburan dan ingin menyewa villa, daerah ini boleh jadi alternatif, gak usah jauh-jauh ke Puncak.

Di gerbang masuk bayar tiket dulu Rp 5.000. Objek wisata ini terdiri dari camping ground, rumah kupu-kupu, beberapa villa (bisa disewa), hiking track, dan tentu saja yang utama yaitu curug tujuh tingkat. Yang paling dekat (paling bawah) disebut curug ketujuh, lalu di atasnya curug keenam, dst.

Untuk menuju curug ketujuh sudah dibuat jalan yang nyaman dan aman, berupa undak-undakan dari batu. Jadi gak bisa dibilang hiking, karena gak ada susah payahnya sama sekali, hehe. Sekitar situ juga bertebaran toilet dan tempat ganti baju, tenda-tenda yang siap disewa, dan warung-warung. Pokoknya udah gampang banget lah.

curugTapi karena aku tiap sebentar motret, jadinya lelet deh di jalannya. Nyampe ke curug ketujuh tuh udah tengah hari. Dan karena sebetulnya hari itu cuaca mendung, begitu sampai sana malah hujan. Oh kameraku! Basah deh. Tapi nekad aja ah, masa objek utamanya gak difoto? Niatnya sih pengen mempraktekkan slow speed. Kata temenku, motret air terjun paling bagus dengan slow speed sehingga aliran airnya terlihat lembut seperti kapas. Sayang aku lupa bawa tripod. Meskipun kalau bawa bakal jadi ribet sih nentengnya, hehe. Jadi lah hasilnya gak sebagus yang aku harapkan.😦

Oya, air di sana dingiiiiiin sekali. Apalagi kalau nyemplung ke kolam yang terbentuk oleh cucuran si curug itu ya. Aku sih gak nyemplung, karena gak bawa baju ganti, juga karena lagi AV. Emm, juga karena airnya gak jernih, coklat. Entah memang selalu gitu atau karena hujan.

Rencana awal, kami mau ke curug yang lainnya, bahkan kalau bisa sampai ke curug paling atas. Ndilalah si hujan itu mengacaukan segalanya. Terlalu bahaya kalau jalan mendaki selagi hujan kan? Licin gitu. Soalnya, beda dengan rute menuju curug ketujuh, jalan ke curug yang lain itu masih alami. Bahkan ketika kami (terpaksa) berteduh di warung, ngobrol punya ngobrol, ternyata untuk menuju curug pertama saja dibutuhkan waktu seharian. Hahaha.. aku malu sendiri deh, udah ngegampangin. Mana bisa tujuh curug dicapai semua dalam sehari. Yah, namanya juga minim informasi.πŸ˜‰

tamankupuPada akhirnya, hari itu kami cuma sampai di curug ketujuh lalu menghabiskan sisa waktu di warung. Sebelum ke situ sempat masuk ke rumah kupu-kupu sih. Ngobrol dengan mbak penjaganya yang sangat antusias. Kayaknya jarang ketemu pengunjung yang cerewet doyan ngobrol kali ya, sehingga begitu ketemu kami, si mbak seneng banget, hehe. Kupu-kupunya sendiri malah gak keliatan batang hidungnya (emang kupu-kupu punya hidung?). Kalau hujan mereka memang akan kuncup, eh ngumpet, karena mereka ini hanya ceria kalau cuaca cerah dan terang. Kayak laron gitu deh, tertarik dengan sumber cahaya.

Oya, untuk yang belum tau, HARAP CAMKAN INI. Kupu-kupu itu umurnya hanya mingguan, setelah itu dia akan mati. Gak akan berubah jadi kepompong! Huahahahaha. Yang berubah jadi kepompong itu ulat. Baru setelah kepompong, berubah jadi kupu-kupu. Hihihihihi. *hai!πŸ˜› *

kupuSampai di mana tadi? Oh ya, berteduh di warung…

Iya, ternyata hujannya awet, jadi akhirnya nongkrong deh di warung. Makan jagung bakar dan minum teh panas. Ngobrol. Ngeliat foto-foto. Ke toilet. Minum bandrek. Ngobrol. Ke toilet lagi. Jadi jauh-jauh ke Cisarua cuma buat bolak-balik ke toilet? Hehehe. *hiperbola*

Sekitar jam 5 atau jam 6 sore (lupa), kami turun, naik ojek lagi. Waaaahh.. di perjalanan pulang itu dapet bonus! Ada kabut lho. Duuhh.. senengnya. Sejuk, dingin, segar. Tiada duanya deh pokoknya. Waktu di motor sebetulnya aku pengen minta berhenti tuh. Biar bisa agak lama menyerap udara sejuk dari alam yang masih murni. Gak kayak Jakarta, huh. Tapi khawatir hujan lagi. Jadi juga tidak ada foto-foto kabut deh.

Oya, kami kan pergi dan pulang naik angkot tuh. Kalau ditotal ada 4 kali. Lucu deh, di keempat-empatnya itu kami selalu jadi penumpang terakhir. Bisa kebetulan gitu. *trus kenapa? apa pentingnya diceritain? ya gpp, pengen aja cerita, ini kan blog-kuπŸ˜› * Oh, satu pesan nih dari pengalaman pribadi. Kalau bisa pulanglah (dari curug) sebelum jam 5 sore. Di atas jam segitu jalur Cisarua-Ciawi bisa jadi udah macet. Tapi kalau bisa menikmati kemacetan sih ya gpp.πŸ™‚

Ada satu lagi yang cukup lucu. Waktu di angkot, sempat melewati penjual ayam goreng yang di gerobaknya tertulis: KU-FC (instead of KFC), yaitu singkatan dari “Ken tuku fried chicken”. Aku pikir-pikir apaaa ya “ken tuku” itu maksudnya? Apa bahasa Jawa yang berarti “untuk dibeli”? Kalo gak salah “tuku” artinya “beli” kan? Jadi maksudnya “ayam goreng untuk dibeli”. Hehe, kreatif memang para pedagang kaki lima itu.

Err.. satu lagi ya. Dari kost aku pake sepatu semi kets lengkap dengan kaos kaki. Mestinya sepatu kets beneran, tapi kok ya waktu itu aku cari gak ketemu (terakhir dipake waktu mengarungi danau Jakarta bulan Februari lalu). Berhubung itu sepatu udah lama gak dipake, jadi sesampai di stasiun Bogor aku udah lecet. Yah, akhirnya beli sandal dulu deh di pasar. Jadi, tetep, ke curugnya nyendal jepit juga (selama ini kalau jalan-jalan ke mana-mana memang aku selalu pake sendal jepit, sendal andalan). Padahal sih untuk tempat yang becek dan licin lebih afdol pake sepatu kets.

Next time deh, balik lagi ke sana. Atau ke curug lainnya. Masih ada Curug Luhur, Curug Nangka, dan beberapa curug lagi di sekitar gunung Salak. Harus. Soalnya belum puas sih.πŸ™‚

Emm.. mohon maaf kalau foto-foto di sini gak nyambung sama paragraf ybs. Cerita lebih detilnya lebih baik liat di flickr aja ya. Biar gambar yang bicara.

From → garut, jalan-jalan

One Comment
  1. kebetulan aku jg pernah ke sanaπŸ™‚

    konon, medan ke curug 1 sangat terjal, tidak akan bertemu dgn rumah penduduk, jd persiapan harus matang. cocok utk para petualang sejati, aku kan rekreator sejatiπŸ™‚, jd cuma sampe 7.

    utk para pemburu hantu, tempat ini spt nya jg cocok utk latihan, ada pemondokan utk disewakan yg keliatannya sih kosong…

Comments are closed.

%d bloggers like this: