Skip to content

Journey to The Past

October 21, 2007

Libur Lebaran kemaren, aku pulang kampung, selain buat reuni dengan adik dan ponakanku, juga dengan tujuan yang udah diniatkan sejak jauh-jauh hari, yaitu: napak tilas masa-masa sekolah dulu.

Tapi tidak dinyana tidak diduga, ternyata liburan yang semula kubayangkan biasa saja, berubah menjadi liburan yang paling berkesan, paling spesial, dan paling inspiratif seumur hidupku. *tsah!* Yang semula cuma bikin plan buat silaturahmi dengan keluarga dan mengunjungi sekolah, ternyata nambah jadi beberapa kegiatan lain, yang sangat berkesan.

Mudik selama tujuh hari itu pada akhirnya menjadi serangkaian cerita perjalanan mudik – tingkah polah ponakanku Emma – napak tilas SD-SMP-SMA – hunting foto – reuni dengan teman lama – dan wisata Garut.

Perjalanan Mudik

kereta lowongBerdasarkan pengalaman, kalo mudik pas di hari pertama Lebaran, gak akan macet. Jadi jam setengah enam pagi aku langsung ke Gambir, biar bisa naek kereta yang jam 6. Weleh, ternyata semua kereta pagi di-cancel. Terpaksa deh nunggu sampai jam 9-an. Walhasil sampai di Bandung udah lewat jam 12 siang.

Dari stasiun naik angkot ke terminal Leuwi Panjang, trus nyari mobil elep jurusan Garut. Langsung dapet sih, tapi buset dah, itu elep ngetem-nya lama pisan. Maklum, kendaraan banyak tapi penumpang sedikit (klo udah Lebaran ya memang sepi gini). Ya sudah apa boleh buat, pasrah aja nunggu sampe sejam-an sebelum akhirnya sang sopir melajukan mobilnya.

Memasuki daerah Cicalengka, karena sopirnya dapat informasi bahwa jalur Nagrek macet, maka dia ambil jalur alternatif yaitu Cijapati. Di situlah aku pertama kalinya merasa jeri naik mobil elep setelah selama bertahun-tahun selalu tenang-tenang aja (meskipun pernah diceritain beberapa orang tentang betapa ugal-ugalannya sopir elep). Jalur Cijapati ini seperti di Puncak, berkelok-kelok. Tapi ditambah dengan adanya jurang di sebelah kiri atau kanan, juga turunan dan tanjakan yang cukup terjal. Nah, normalnya kan sewaktu di turunan, sopir nginjak rem toh? Sopirku malah sebaliknya. Tancap gas.. Maaannn!!

cijapatiKebayang kan gimana rasanya tuh? Kayak naek roller coaster atau water boom waktu pas terjunnya. Jantung ini serasa melonjak sampai leher. Buat sebagian orang mungkin sensasinya asik, memacu adrenalin, tapi aku sih sejak dulu emang gak berani maen roller coaster dan water boomπŸ˜› . Gilanya lagi tuh sopir, bahkan ketika di depannya ada kendaraan lainpun, dia gak mengurangi kecepatan. Duh, deg-degan deh, takut nabrak mobil di depan, takut ketabrak mobil dari depan, takut selip masuk jurang, dll. Sempat sekali waktu hampir nabrak betulan, yang membuat para penumpang menjerit cemas. Tapi dasar sopir geblek, dia tetep aja ngebut seenaknya.

Untunglah begitu lepas Cijapati, sopirnya turun (entah karena apa dan mau ke mana) lalu digantikan sang kenek. Sisa perjalanan dilanjutkan dengan hati damai tenteram.

Akhirnya nyampe rumah di Garut sekitar jam setengah empat sore. Lama juga ya, dari jam 6-an sampai jam 4-an, wuihh.. 10 jam!! Bukan lama karena macet, tapi karena ngetem tadi.

 

My Niece, Emma

cilukbaMana nih ponakanku? Masih ngenalin Tante gak nih?πŸ™‚

Ternyata baru bangun tidur dia. Keluar kamar digendong mamanya, eh dia senyum. Ge-er deh Tante, berarti Emma masih ngenalin ya?

Tapi sayang sekali aku kecele, karena itu anak lengket banget sama mamanya. Jadi selama di Garut gak mau digendong orang lain. Sama neneknya gak mau, sama tantenya juga gak mau, bahkan kadang sama papanya juga gak mau. Emma cuma mau sama Mama! Gitu kali ya. Aku cuma berhasil memangku dia beberapa menit, itupun setelah diiming-imingi keripik tahu dulu (yang belom pantes jadi makanan bayi sebenernya, hehe). Kok kayak emaknya ya, doyannya sama makananπŸ˜‰ .

mama idola Iya deh Emma, Tante ngerti, buat kamu tuh mamamu idolamu ya. Apalagi di rumah Garut kamu belum familiar, jadi buat kamu itu tempat asing. Wajar kalau takut ditinggal Mama. Lagian kapan lagi ya manja-manjaan sepanjang hari sama Mama kalau gak lagi libur gini, hehe.

Cuma air mata buayanya itu lhooo.. hahaha. Kecil kecil udah tau cara memanipulasi orang lain.πŸ˜› Udah tau ya kalau kamu nangis, semua orang akan menuruti kemauanmu. Wah.. mamanya musti belajar tegaan dikit nih.πŸ™‚

Tapi selain gak mau digendongnya itu, Emma nyenengin. Begitu dia merasa aman (mamanya ada dalam jarak pandang dia), dia merangkak ke sana ke mari. Semua pengen dipegang, dari telepon, sendal, sampai televisi. Hobinya maenan tissue (dirobek-robek), plastik, kantong keresek, karet gelang, dan kotak bekas. Halah, ini anak irit amat ya. Padahal Tante udah beliin maenan bayi, tapi rupanya belum sesuai dengan seleranya, hiks.😦

merangkakEsok harinya kita ngajak Emma berenang di sumber air panas. Hmm, but again she didn’t enjoy it much. Dia nangis waktu diceburkan ke air. Entah karena terlalu panas, atau terlalu banyak orang, atau kaget karena sering kena cipratan air. Padahal sambil digendong mamanya, lho. Akhirnya gak lama di sana, terus pulang deh. Gpp, nanti gedean dikit coba lagi ya, Nak.πŸ˜‰

Oya, yang lucu waktu dia ketemuan sama balita-balita lain di rumah sodaraku. Cara kenalannya, wajah balita-balita itu dia pegang-pegang dan raba-raba. Hihihi, so cute.

Ponakanku bersama mama-papanya cuma 3 hari di Garut. Hari Senin mereka ke Jakarta buat ketemu sodara-sodara yang laen. Yah, gak sempet ngambil hatinya Emma deh. Dan sekarang aku baru nyadar, gak ada foto aku sama sekali bareng Emma! Hayahhh…

 

Napak Tilas Sekolah

smansa tarogongHari selanjutnya aku keluyuran. Tujuan utama adalah TK, SD, SMP, dan SMA-ku. Udah beberapa kali aku mimpi seolah diriku balik jadi seumuran anak sekolah, berangkat ke sekolah melewati rute tertentu, sampai di sekolahan. Jadi kali ini aku sengaja jalan-jalan di rute yang dulu aku lewati. Hmm, ternyata jalanannya sendiri gak berubah banyak. Boleh dibilang masih sama persis.

Yang berubah justru sekolahannya. Pertama, TK dan SD-ku yang dulunya gak dipagar, sekarang dipagar tinggi dan dikunci. Jadi aku cuma bisa motret ngintip dari sela-sela pagar. Sedangkan dalamnya seperti apa, gak bisa keliatan. Oya, meskipun sejak TK sampai SMP aku sekolah di sekolah yang sama, tapi gedung SMP-nya berlokasi di tempat lain.

smp yosSyukurlah gerbang SMP dan SMA gak dikunci. Yang berubah paling banyak adalah SMA-ku. Dulu namanya “SMAN 1 Garut”, sekarang ganti jadi “SMAN 1 Tarogong Kidul”. Dulu hanya bangunan satu tingkat, sekarang sudah punya sebuah bangunan bertingkat dua. Dulu belum ada ruang khusus untuk kegiatan ekstra kulikuler, sekarang sudah ada sederet (Pramuka, OSIS, KIR atau kelompok penggemar karya ilmiah, dan 1 lagi lupa).

Ruang kelas juga bertambah banyak. Di bagian belakang sekolah, yang dulunya lapangan kosong yang hanya dimanfaatkan untuk olahraga, sekarang ditempati sederetan kelas, bangunan perpustakaan (satu bangunan tersendiri, padahal dulu cuma satu ruangan), lapangan volley, lapangan tenis, dan masih ditambah calon bangunan baru lagi. Yang baru lagi adalah mesjid di dalam sekolah. Dulu itu belum ada.

basket smansaWaktu aku di dalam SMA-ku itu, ada sekelompok anak yang main basket. Mestinya itu adik-adik kelasku ya. Ada dorongan untuk menyapa dan memperkenalkan diri sebagai senior mereka. Tapi urung, karena gak pede, hehe.

Begitu pun aku cukup puas. Perasaanku ketika itu sama persis dengan perasaan dalam mimpi-mimpiku. Serasa terlempar kembali ke masa muda dulu..πŸ™‚

 

Hunting Foto

tiang benderaDi dalam perjalanan menuju sekolah, sering aku berhenti untuk memotret spot-spot tertentu yang menarik untuk difoto. Salah satunya alun-alun Garut. Dulu, sebelum ada department store, alun-alun ini adalah pusat keramaian. Hijau, rindang dengan pepohonan besar. Upacara tujuh belasan selalu diadakan di sini. Kenangan yang paling jelas di sini adalah masa-masa upacara itu, ikutan obade (paduan suara), lomba gerak jalan, main perosotan di tembok Masjid Agung, dan olahraga lari keliling alun-alun.

mesjid agungSekarang, alun-alun gak serindang dulu. Permukaannya udah pake paving block. Waktu aku ke sana, sedang ada balap motor kecil. Yang naik anak-anak, dengan sepeda motor mini. Pengunjung juga gak banyak, begitu juga yang berjualan. Sekarang warga Garut lebih suka ke “Yogya Department Store” daripada ke alun-alun.

Hunting lainnya yaitu ke jembatan sungai Cimanuk. Di kota Garut ada beberapa jembatan yang memotong sungai ini. Aku cuma ambil yang terdekat (padahal kalau sempat, ada jembatan yang agak jauh yang lebih dramatis view-nya).

Dari tahun ke tahun, permukaan air sungai Cimanuk semakin turun. Kemaraukah penyebabnya? Penduduk setempat masih memanfaatkan sungai ini untuk bermain air maupun mencuci pakaian. Meskipun tidak lagi jernih, sudah coklat, namun dibandingkan sungai-sungai di Jakarta ya masih bersih-lahπŸ˜› , dan gak ada sampah. Beberapa bagian sungai yang ditinggalkan airnya sehingga menjadi lahan subur, dimanfaatkan penduduk untuk menanam sayur-sayuran, atau bermain layang-layang.πŸ™‚

 

Ketemu Teman Lama

Sewaktu aku sedang asyik memotret, tanpa sadar aku menoleh ke kanan, dan tiba-tiba “jepret!” seseorang memotretku. Hayaahh, dasar orang iseng, begitu pikirku dengan cuek, lalu meneruskan kegiatanku lagi. Baru setelah beberapa detik aku heran, lho ternyata di Garut ada juga toh orang lain yang secuek aku motret-motret begini. Dengan penasaran aku menoleh lagi… oalaaahh.. ternyata aku kenal! Wah surprise, ketemu teman lama, atau lebih tepatnya pembina pramukaku dulu di SMP.

“Ti tatadi dipanggil-panggil meni teu waro. Ti iraha hobi potograpi?”, gitu katanya. Hahaha, ternyata udah dari tadi mereka (dia bareng istrinya) ngenalin aku. Atuh da emang sayah mah gitu , kalo lagi asik suka lupa sekitar.πŸ˜›

translation

Ti tatadi dipanggil-panggil meni teu waro. Ti iraha hobi potograpi? = Dari tadi dipanggil-panggil cuek aja. Sejak kapan hobi fotografi?

Jadilah jembatan sungai Cimanuk itu tempat reuni yang paling seru. Dia surprise tau aku suka fotografi, sedangkan aku rada nyesel kenapa gak nyadar dari dulu-dulu bahwa fotografi itu mengasyikkan. Coba sejak SMP aku doyan, kan aku dah jago sekarang, dapat ilmu dari dia. Aku jadi ingat, iya ya, dulu itu ke mana-mana orang ini emang juru potretnya.

sungai cimanukCerita punya cerita, sekarang dia mengelola bisnis akar wangi bersama istrinya. Selain itu, juga sebagai fotografer landscape, commercial art, and portrait. Trus ngapain di Cimanuk? Motret sungai. Dilakukan rutin setiap tahun di bulan Oktober (puncak kemarau). Supaya punya dokumentasi proses pendangkalan sungainya. Untuk apa? Ya buat disimpan aja dulu, siapa tau suatu saat diperlukan.

Oh, ternyata dia juga pemerhati sosial budaya. Sehari sebelum aku balik ke Jakarta, aku diundang ke rumahnya. Baru deh ngobrol lebih banyak. Tentang fotografi (aku dikasih liat hasil-hasil fotonya, dan diceritain teknik motonya), tentang proposal yang dia ajukan ke dinas pariwisata Garut untuk membuat buklet dan video wisata Garut (aku dikasih keduanya, buklet dan CD), tentang event-event yang ternyata cukup rutin berlangsung di Garut (misalnya pas ultah Garut tgl 17 Maret), tentang kerajinan akar wangi (hmm, wanginya enak deh), dan masih banyak lagi.

Yang berharga adalah, foto-fotoku dia liatin dan dia kritik. Waahh, senengnya, dikasih tunjuk di mana kurangnya, karena apa, dan dikasih saran bagaimana supaya foto tsb lebih bisa dinikmati. Teoritis emang aku udah pernah tau tentang POI, DOF, rule of third, framing, dll, tapi beda deh dengan langsung ditunjukin spesifik di foto-foto yang kuambil. Lebih nempel.πŸ™‚

Seneng bangeeett. Waktu pulang, aku dikasih beberapa file fotonya yang bagus-bagus (“Asal jangan dijual ya”, gitu katanya, hehe), dan sebuah foto pemandangan gunung Papandayan yang sudah dicetak ukuran besar.

Next time kalau aku ke Garut lagi, aku udah punya teman yang bisa kukontak. Selama ini kalo pulang, aku kesepian. Makanya biasanya suka ngegeret siapa aja temen di Jakarta untuk ikut pulang, biar ada temen, hehe.

 

Wisata Garut

kawah darajatDari temanku itu aku dapet banyak informasi tempat-tempat wisata yang oke punya di Garut. Ternyata banyak yang bisa aku kunjungin kalau pulang. Kuper banget deh aku selama ini, gak nyadar kalo keindahan alam itu ada di depan mata selama berpuluh-puluh tahun.πŸ˜›

Terdorong oleh semangat untuk hunting foto, sehari setelah ketemu temanku itu, secara impulsif aku memutuskan untuk hunting sekaligus main ke Kawah Darajat dan Situ Cibeureum (‘situ’ artinya ‘danau’, bahasa Sunda). Aku sebut impulsif, karena keputusan itu aku ambil mendadak di atas angkot, ketika mataku membaca petunjuk arah ke Kawah Darajat dan Situ Cibeureum, dari atas angkot tujuan Cipanas.

Jadi akhirnya, niat semula untuk hunting di Cipanas berbelok ke arah lain, hehe.

Kedua daerah tersebut terletak di pegunungan. Dari kota, naek angkot jurusan Samarang. Turun di daerah Panunjuk, lalu ganti angkot jurusan Pasirwangi. Terus aja sampai di titik akhir rute angkot tsb. Dari situ naek ojek deh.

abg cibeureumWah seru! Dari pangkalan ojek ke lokasi kawah itu jauh juga, dan makin atas makin dingiiinn. Sepanjang jalan, mata ini dipuaskan oleh pemandangan gunung dan lembah yang segar menghijau. Jiwa petualangku terpuaskan banget, hehe. Rasanya puas sekali, berhasil pergi ke dua tempat itu, meskipun hanya sendirian. Rasanya jadi cewek jagoan! *halah!*πŸ™‚

Oya, di kedua tempat itu aku berhasil menjalin interaksi dengan petugas jaga (di kawah), tukang ojeknya, dan beberapa anak ABG lulusan STM (di Situ Cibeureum). Jadi biar gak canggung karena berkeliling sendirian, ajak orang-orang di sekitar kamu ngobrol. Kalau digodain anak-anak ABG, sekalian aja samperin, ajak ngobrol, tanya-tanya, ajak foto. Dijamin jadinya seru! Kalau dimarahin petugas karena nekat menerobos tali pembatas di sekeliling kawah supaya bisa foto lebih dekat ke bibir kawah, segera akui kesalahan, minta maaf, lalu alihkan perhatiannya dengan bertanya-tanya seputar kawah tsb. Jangan lupa ajak berfoto juga.πŸ˜‰

petugas kawahTrus, kalau gak tau musti naik transportasi apa dari kawah ke danau (dua tempat tsb terletak di lokasi yang berbeda, yang ternyata jaraknya sangat jauh, haha), jangan segan-segan tanya ke tukang ojek. Tanyakan dengan mendetil, dibumbui dengan sedikit pancingan, dengan harapan sang tukang ojek akhirnya menawarkan dengan sendirinya untuk mengantar kita ke danau tersebut.πŸ™‚

Walhasil, dari kawah ke Situ Cibeureum aku gak perlu pusing lagi mikirin mau naik apa ke sana dan mau naik apa pulangnya. Bahkan menurutku si akang ojek itu seneng bisa ikutan jalan-jalan, dan sangat antusias menunjukkan daerah-daerah yang menarik untuk difoto. Oya, supaya aku bisa nampang di foto, aku ajarinlah dia motret menggunakan kamera Nikon D40-ku itu.

ikutan difotoDan aku menyadari, betapa polosnya orang-orang di sekitar tempat wisata tersebut. Betapa riangnya mereka ketika aku memotret mereka. Bahkan di Situ Cibeureum, menjelang pulang, seorang bapak-bapak (mungkin salah satu tukang ojek yang mangkal) mencegat aku dan bertanya, boleh gak minta difoto. Padahal hasil fotonya gak akan mereka miliki lho! Tapi mereka itu seneeeengg sekali ketika aku foto.πŸ˜€

Bisa jadi aku disangka wartawan ya, hehe.

Wisata hari itu berakhir sekitar jam 5 sore. Untuk jasanya mengantar aku ke mana-mana, si akang ojek segan menyebutkan harga. Wah, padahal aku juga gak ada referensi. Akhirnya aku kasih 60 ribu rupiah, plus aku cetakin 2 lembar foto 4R untuk dia, bergambar si akang ojek bersama anak-anak ABG tadi yang berpose di sebatang dahan tumbang di kolam kecil sekitar danau.

mulih ka desaOya, dalam perjalanan pulang dari danau, aku mampir ke sebuah tempat makan dan penginapan baru, yaitu “Mulih Ka Desa”, yang berlokasi beberapa kilometer sebelum “Kampung Sampireun”. Kalau “Kampung Sampireun” berkonsep resort di atas danau, “Mulih Ka Desa” (artinya: kembali ke desa) mengusung konsep kehidupan orang desa, yang makan dan tidur di tengah-tengah pematang sawah, dengan saung-saung dan rumah-rumah bambu, lengkap dengan sepasang kerbau hidup!πŸ˜€

Magrib sudah lewat ketika aku sampai di kota lagi. Pulang deh ke rumah dengan hati yang terpuaskan. Uuuhh, bahagianya!πŸ˜€

Mudah-mudahan Desember ini bisa back to Garut untuk mengeksplor lebih banyak tempat wisata. Ikut yuk?πŸ˜‰

 

Back to Jakarta

Euh, ini jadi antiklimaks nih, hihi. Perjalanan pulang ke Jakarta tidak terlalu berkesan, bahkan menurut temanku, perjalanan yang lancar tanpa macet dan tanpa hambatan itu SANGAT tidak berkesan. Gak seru katanya.πŸ˜›

Tapi toh aku menikmati juga beberapa moment di atas kereta, misalnya waktu aku iseng SMS-in beberapa teman untuk… ah nantilah itu di postingan yang lain.πŸ˜‰

Oya, aku balik Jakarta hari Jumat. Sengaja karena menurutku kalau hari Minggu pasti macet. Eh bener, Garut-Bandung lancar. Kereta juga sepi, banyak tempat kosongnya, sama seperti perjalanan mudik Jakarta-Bandungnya. Dari atas kereta, keliatannya jalan tol Cipularang juga lowong.

Foto-foto selengkapnya bisa dilihat di Flickr.

From → jalan-jalan

%d bloggers like this: