Skip to content

Getting to Know You

October 9, 2007

Refreshing ah.

Barusan *asal-asalan* buka halaman buku First, Break All The Rules, eh ternyata topiknya menarik.

Jadi ini adalah tentang “great manager”. Ada pertanyaan begini: “Anda punya karyawan yang berbakat (talented) yang secara konsisten datang terlambat ke kantor. Apa yang akan Anda katakan kepada karyawan tsb?”

Jawabannya bervariasi. Ada yang bilang, “Langsung pecat; kami tidak menoleransi keterlambatan”. Ada juga yang bilang, “Saya kasih peringatan verbal dulu, trus peringatan tertulis, trus baru dipecat kalau gak berubah juga”. Ada yang ekstrim, “Saya akan kunci pintu masuk kantor dan bilang ke dia bahwa siapapun yang telat, bahkan kalaupun hanya 2 detik, gak diijinkan masuk”. Tapi ada juga yang gak mempermasalah, “Gak apa-apa. Saya gak peduli jam berapa dia masuk, asal dibayar dengan pulang telat, dan kerjaannya selesai”.

Setiap jawaban-jawaban kayak gitu tuh defensible, selalu bisa diperdebatkan. Nah, ketika ditanyakan ke para “great manager”, jawaban mereka adalah: “I would ask why”.

Pasti ada penyebabnya kenapa karyawan tsb terlambat. Mungkin bisnya selalu telat, mungkin dia harus nunggu pembantunya datang sebelum dia bisa ninggalin rumah, mungkin dia punya masalah keluarga, dll. Sekali mengerti alasannya, manager akan bisa mengambil tindakan yang sesuai, yang bisa jadi sama dengan salah satu jawaban di atas.

Yang membuat perbedaan antara manager biasa dengan “great manager” adalah, no matter what the next step, the first step was always to get to know the employee: “Ask why”.

Hmm, menarik. Setuju banget. Di alinea pertama sub bab ini (“Getting to know you”), aku kutip:

“Should you build close personal relationships with your employees, or does familiarity breed contempt?” The most effective managers say yes, you should build personal relationships with your people, and no, familiarity does not breed contempt.

Aku jadi teringat satu peristiwa di jaman dahulu kala *halah!*. Beberapa tahun yang lalu, akibat komentar salah satu teman, aku pernah dengan sengaja menjaga jarak dengan rekan-rekan kerja yang lain. Dia berkomentar kurang lebih begini: “Kamu tuh sekarang supervisor lho, musti punya wibawa. Gak bisa lagi kamu bersikap sama (ke rekan-rekan yang lain) seperti sebelum jadi supervisor.”

Waktu itu komentar tsb aku artikan bulat-bulat sebagai: “atasan gak baik terlalu dekat/bebas/bercanda dengan bawahannya, jadi musti pasang jarak”. Entah kenapa ucapan yang cuma dikatakan satu kali itu melekat kuat dan berhasil membuat aku bener-bener jadi menjaga jarak dengan yang lain. *sampe sekarang juga masih takjub betapa mudahnya aku dipengaruhi. eh atau akunya yang salah nangkep ya? halah, berarti dulu itu aku dodol dong, hihihi*

Well, seiring berlalunya waktu, aku makin dewasa dan makin bijaksana *huahahaha*, dan akhirnya aku tau teori itu gak bener. Jadi waktu barusan baca sub bab ini, uh langsung kena deh di hati. Bener! Bener! Setuju banget. It’s important to get to know your people! *meskipun susah, hehe*

Dan lebih-lebih lagi, untuk setiap tindakan (yang dilakukan orang lain) itu PASTI ada alasannya. Langkah pertama sebelum bereaksi atas tindakan tsb, adalah bertanya: “Why did he/she do that?”. Make sure you understand the real problem before making any movement!🙂

*menasehati diri sendiri, hohoho…*

Sebetulnya masih ada lanjutan dari topik ini, yang intinya: cara untuk “getting to know” itu bisa dilakukan dengan tetap alami, sesuai style masing-masing orang. Trus pastilah masih banyak juga sub bab lainnya. Postingan ini aku ambil hanya dari 2 halaman bukunya doang lho (dari 271 halaman), hehehe.

Ntar ya kalo mood bagus, aku posting topik lainnya.😉

From → matabaca, opini

One Comment

Trackbacks & Pingbacks

  1. (Don’t) treat people as you would like to be treated « Another Sound of Music

Comments are closed.

%d bloggers like this: