Skip to content

Sales Person yang Mengganggu

September 19, 2007

Kalian pernah gak, dapat telepon entah dari mana yang nawarin (baca: jualan) sesuatu? Paling sering sih nawarin kartu kredit, asuransi, atau investasi.

Aku heran, dari mana sih mereka itu dapet nomor teleponku?? Yang tau mestinya cuma sodara2, temen2, bank tempatku buka rekening (2 bank doang), atau beberapa tempat di mana aku memang pernah ngisi ‘nomor telepon yang bisa dihubungi’. Tapi dari semua tempat itu gak ada satupun perusahaan atau agen kartu kredit/asuransi/investasi.

Jadi aku berkesimpulan, pasti deh ada satu atau dua lembaga (tempat aku jadi anggota) yang menjual data customer-nya. Ugh! Padahal di formulir pendaftaran seringkali ada ‘jaminan’: “data pribadi Anda hanya untuk keperluan internal kami, tidak akan diperjualbelikan atau disebarluaskan”.

Yang gak kalah menjengkelkan, para mbak atau mas Sales itu suka maksa! Pernah waktu itu aku ditawari asuransi, lalu aku tolak dengan alasan sudah punya. Eh si mbaknya nanya: “Asuransi apa? Belinya sama siapa? Boleh tau siapa nama agennya?” Idiihh.. apa haknya dia tau informasi itu? Trus dia juga masih minta aku sebutin nama temen2ku berikut nomor teleponnya! Yeeee…

Yang paling fresh, kejadian barusan ini. Ada mbak-mbak yang nawarin investasi. Dia bicara dengan suara yang dilagukan (ngerti maksudku kan? dinaikturunkan gitu intonasi suaranya, meliuk-liuk). Tapi dia ini terlalu meliuk-liuk intonasinya. Jadinya gak wajar, dan tidak memberi kesan bisa dipercaya. Aku malah menangkap kesan seperti seseorang yang sedang berusaha memperdaya calon korbannya dengan bujukan dan rayuan manis.

Udah mah meliuk-liuk, lambat dan panjang pula kalimatnya. Dia nyerocos mempromosikan keunggulan produknya, nyerocos menyebutkan berbagai alasan mengapa aku sebaiknya beli investasi tsb SEKARANG. Padahal aku baru ngomong “ini dari mana?” dan “oh, saya udah punya”. Blah! Langsung tidak simpati aku. Aku gak dikasih kesempatan ngomong e’. Artinya mereka itu bukan menawarkan solusi bagi calon customer, melainkan hanya sekedar supaya dapat komisi dari penjualan yang terjadi.

Di awal percakapan aku masih ramah. Aku sebetulnya cukup mau bersimpati kepada para Sales. Bukan hal yang gampang memang, menelepon orang asing dan berusaha menjual sesuatu. Tapi gara-gara si mbak ini cuma nyerocos terus, gak ada usaha mendengarkan aku, buyarlah niat baikku. Gak ada seorang pun yang gak akan jengkel ketika menyadari bahwa lawan bicaranya tidak mendengarkan. Akhirnya di detik itu juga aku habis kesabaran, gak pengen lagi mempolusikan telingaku dengan nada meliuk-liuknya yang dibuat-buat, gak pengen lagi memberi dia kesempatan untuk melakukan pekerjaannya.

Aku potong ocehannya dengan mengatakan: “Mbak, mbak, saya boleh jawab? Gini Mbak, pertama, saya udah gak punya uang lagi. Jadi biarpun ada investasi yang bagus, karena uang saya udah gak ada buat belinya, ya gak bisa…”

Haha! And you know what? Dia menyahut dengan NADA SUARA YANG TIDAK LAGI MELIUK-LIUK: “Oh, ya udah. Makasih.” Hang up.

Padahal aku belum selesai ngomong. Kan aku baru ngajuin alasan yang pertama. Artinya ada alasan yang lain. Tapi dia langsung nutup telepon. Hahaha.

Heraaaaann deh.

Jadi tips dariku, untuk menolak mereka, kamu harus mengajukan alasan yang jelas-jelas dibuat-buat, dan katakan dengan ketus dan sinis. Kalau kamu menolak dengan halus (misalnya “gak mbak/mas, saya udah punya”, “wah lain kali aja mbak/mas”, “aduh saya gak punya waktu”), yakinlah, mereka akan tetap terus mengejar.

Hhhh, beberapa orang memang hanya ngerti penolakan dengan cara yang kasar.

From → hatirasa, opini

2 Comments
  1. Bener jg sih, klo nolak sales itu jgn pake kata2 yang akan memberikan celah utk si sales lebih agresip. Contoh, jika diberi jawaban “nanti saja”, si sales akan ngejar dgn kata2 “skr aja pak, nnt keburu habis”. Selama ini aku merasa cukup aman dengan mengatakan “tidak” dan jarang ada yg masih nekad ngejar aku lagi🙂

  2. Aku kadang merasa kesel ke sales spt itu kalau aku udah merasa terganggu, tp kasihan nya jg ada, jd sales kan mungkin bukan pilihannya, dia pasti mengharapkan pekerjaan yg lebih baik, sehingga akhirnya aku redam rasa kesalku dan memilih bersikap netral aja, artinya senyum ngga, judes pun ngga, alis ga ada ekspresi hehe…

Comments are closed.

%d bloggers like this: