Skip to content

When to use capital, and when not to?

August 30, 2007

Dalam rangka menunaikan tugas sebagai editor, aku baru saja membaca artikel-artikel yang akan tayang di buletin edisi September/Oktober mendatang. Seketika aku menyadari beberapa point kesalahan yang umum dilakukan oleh para penulisku (caileh, sok gaya..penulisku.. hihi). Salah satunya adalah kesalahan pemakaian huruf kapital.

Kapan kita harus menggunakan huruf besar, dan kapan huruf besar tidak boleh digunakan? Sepertinya banyak orang masih kebingungan dan tidak yakin dengan aturan huruf kapital.

Yang paling mudah diingat tentu saja huruf kapital di awal kalimat. Lalu apa lagi? Nama orang. Benar, itu juga mudah diingat. Nama tempat? Oke. Tapi apakah semua nama tempat harus ditulis huruf besar? Masih banyak orang yang bingung.

Contoh.

“Bulan lalu sepupuku menikah di Gereja Bunda Hati Kudus di depan Mesjid Istiqlal.”

“Pemerintah membangun gereja dan mesjid tersebut berseberangan di jalan utama kota ini.”

“Aku lihat Gereja Bunda Hati Kudus yang terletak di depan mesjid terbesar di Jakarta itu sangat ramai.”

Did you notice? Pada kalimat pertama aku menggunakan huruf besar sedangkan pada kalimat kedua aku menggunakan huruf kecil. Menurut EYD, kata benda (gereja dan mesjid) selalu ditulis huruf kecil, KECUALI jika kata tersebut diikuti oleh nama identitas (Bunda Hati Kudus dan Istiqlal). Untuk menulis identitas maka aturannya sama seperti menulis nama orang, yaitu menggunakan huruf besar.

*kalimat ketiga adalah contoh kombinasi penggunakan huruf besar dan huruf kecil*

Masih ada beberapa lagi aturan penggunakan huruf besar-huruf kecil. Cukup panjang kalau mau ditulis satu persatu di sini. *ehm, “satu persatu” atau “satu per satu” ya? I’ll check it later, hehe.*

Rasanya greget pengen ngasih tau. Jadi timbul ide nih untuk bikin penataran singkat tentang beberapa aturan EYD😛 . Mungkin diawali penjelasan tentang konsepnya dulu, kemudian dipraktekkan langsung dengan saling menukar artikel antara peserta penataran (baca: ya para penulis artikel tsb), cari di mana salahnya kemudian dikoreksi.

Aku sadar hal-hal seperti ini cukup remeh untuk segera dilupakan sesaat setelah diberitahukan, hahaha😛 . Hanya dengan kebiasaanlah maka naluri untuk menggunakan EYD bisa terasah. Harus dipraktekkan sendiri supaya pengetahuan tersebut menjadi pengalaman pribadi, sehingga mudah-mudahan melekat lebih kuat di ingatan. Syukur-syukur kalau sampai ke ingatan bawah sadar. *kan katanya otak bawah sadar lebih powerfull*

From → tangantulis

2 Comments
  1. Aku jd ingin nostalgia pelajaran EYD ini. Website ttg eyd berikut ini semoga bermanfaat:

    http://id.wikisource.org/wiki/Pedoman_Umum_Ejaan_Bahasa_Indonesia_yang_Disempurnakan

  2. seawind permalink

    thanks link-nya. hayo test sebagus (atau sehancur) apa eyd-mu.😛

Comments are closed.

%d bloggers like this: