Skip to content

Sepatu Biru atau Emas?

July 26, 2007

Dikutip dari forward-an email (yg sepertinya ngutip juga dari buku tertentu๐Ÿ˜› ).

Alkisah Uta dan Fenny sedang siap-siap untuk pergi ke pesta. Fenny baru aja beli baju baru dan pengen banget keliatan cantik. Dia pegang 2 pasang sepatu, sepasang warna biru, sepasang warna emas. Lalu dia bertanya ke Uta, dengan pertanyaan yang paling ditakutin cowok, “Bang, yang mana yang musti Fenny pake dengan baju ini ya?” Keringet dingin Uta mulai keluar. Dia sadar sebentar lagi bisa muncul salah. “Ahh… umm… yang mana aja yang kamu suka Sayang,” Gitu jawab Uta. “Ayo donk Bang,” kata Fenny lagi, nggak sabaran, “Yang mana yang keliatan lebih bagus… yang biru atau yang emas?” “Kayaknya yang emas deh!” jawab Uta, dengan gugup.

Emangnya yang biru kenapa?” tuntut Fenny. “Kamu emang dari dulu nggak pernah suka sama yang biru! Aku beli mahal-mahal dan kamu nggak suka, kan?” Uta dalem hatinya mungkin udah dongkol, “Kalo nggak mau denger pendapatku, kok tadi nanya!” Uta pikir tadi dia disuruh menyelesaikan suatu masalah, tapi ketika masalahnya sudah ia selesaikan, Fenny malah kesel. Fenny, tapinya, sedang menggunakan bahasa yang tipikal cewek alias cuman cewek yang ngerti: bahasa tidak langsung atau kerennya indirect speech .

Fenny sebenernya udah mutusin mo pake sepatu yang mana dan tidak sedang minta pendapat; yang dia inginkan adalah konfirmasi dari Uta bahwa ia terlihat cantik.

Memang cewek kalo ngomong biasanya menggunakan indirect speech alias memberikan isyarat tentang apa yang sebenarnya dia inginkan. Tujuannya adalah untuk menghindari konflik atau konfrontasi sehingga bisa terjalin hubungan yang harmonis satu sama lain. Indirect speech biasanya menggunakan kata-kata seperti ‘kayaknya’, ‘sepertinya’ dan sebagainya.

Cowok menggunakan bahasa langsung atau direct speech dan mereka mengambil makna sebenarnya dari apa yang orang lain katakan.

OK deh, lagi-lagi teori Men Are From Mars, Women Are From Venus. Pada umumnya sih aku bisa terima teori itu.

Tapi, kalau teori itu betul, berarti aku cewek yang menyimpang dong. Soalnya, kadang sering aku berpikir/bereaksi gak seperti rumus cewek. Misalnya, cerita di atas itu, familiar banget buat aku, tapi di sisi aku sebagai si Uta! Hihihihi.

Seorang teman pernah berkomentar bahwa aku ignorance (hai Bu! hehe), dalam artian aku sering banget gak ngeh dengan hal-hal yang tersirat, alias indirect speech. Contoh, kalau aku nawarin sesuatu ke seseorang, misalnya makanan, lalu orang itu bilang nggak mau, ya udah aku terima begitu aja jawaban itu sebagai memang gak mau; jangan harap aku bakal nawarin dua kali. Padahal mungkin aja sih sebenernya dia mau tapi malu atau sungkan.

Sebaliknya, kalau ada teman yang punya sedikit makanan, trus dia berbasa-basi nawarin makanannya ke aku, trus aku memang mau, aku bakal ambil makanan itu. Aku sering gak bisa bedain mana tawaran yang basa-basi mana yang serius. Karena aku sendiri, kalau aku gak pengen bagi-bagi, ya aku gak bakal nawarin.๐Ÿ˜›

Dalam hal-hal lain, juga sering aku gak berhasil menangkap hal-hal yang gak dikatakan secara eksplisit. Misalnya, kalau ada orang yang gak sreg dengan salah satu sikapku, tapi orang itu sungkan bilang terus terang, lalu hanya menyindir-nyindir, sangat mungkin aku tetap gak ngeh bahwa sindiran itu ditujukan buatku. Aku bakal lempeng-lempeng aja.๐Ÿ˜›

Dulu malah lebih parah.

Waktu masih –ehem – muda dulu (oh my god, betapa benarnya kalimat ini, hihihi ), aku sering sekali ingin tau tentang banyak hal. Kalau aku penasaran tentang 1 hal, aku bisa tanya terus sampai detil ke orang ybs. Aku gak akan sungkan menanyakan hal-hal yang sensitif, karena aku berprinsip, kalau orang tsb keberatan dengan pertanyaanku, setiap saat dia bisa bilang, “Sori aku gak bisa jawab”, dan pada saat itulah baru aku akan stop.

Setelah cukup lama baru aku sampai pada pengertian bahwa sikapku itu tidak sopan, hihihi. Dan bahwa itu menempatkan orang lain pada posisi sulit: enggan menjawab tapi sungkan menolak jawab. Jadi sekarang sih rasanya aku udah gak begitu. Malah kadang cenderung ekstrim jadi gak mau tau kalau gak sengaja dilibatkan.๐Ÿ˜›

Tapi dalam hal membaca yang tersirat, alias mengenali indirect speech, itu masih suka tulalit. Jadi malah aku kayak cowok! Suka mengambil makna bulet-bulet dari apa yang orang lain katakan.

Anyway, aku rasa masalah komunikasi di mana-mana pasti kita alamin. Entah antara cowok-cewek, maupun antara sesama cowok dan sesama cewek. Antara atasan dan bawahan, antara orang tua dan anak, antara sahabat, bahkan antara anak kembar sekalipun.

Conclusion: I think we should realize the fact that we might see something one way, while others might see something in a different way.

Peace!๐Ÿ˜‰

From → about me, matabaca, opini

3 Comments
  1. Aku pernah tuh baca buku “Men From Mars…”, tapi aku lupa lagi isinya karena bacanya duluuuuuuuuu banget. Walaupun aku lupa lg dgn isinya, tapi kesimpulanku (waktu itu setelah baca buku tsb) masih aku ingat s/d skr.

    Kesimpulanku waktu itu:

    Ko spt nya mudah sekali ya utk memahami wanita, spt nya sudah ada rumus yg jelas, kalau begini maka begitu, kalau begitu maka begini. Trus aku pernah mempraktekannya, hasilnya……….bikin pusing krn ko banyak tidak sesuai dgn teori. Pada akhirnya mah feeling jg yg bicara hehe.

    Tapi aku tidak menyalahkan buku itu, krn bagaimanapun jg, psikologi manusia terlalu kompleks utk dijelaskan secara ilmiah. Isi buku itu mngkn benar hanya utk sebagian org2 saja, artinya tidak bisa dijeneralisasi.

    S/d skr, aku ga pernah lagi percaya kpd buku2 spt itu.

  2. sue permalink

    aq tidak ingat pasti apakah di MFMWFV secara eksplisit disebutkan cewe selalu menggunakan indirect speech atau cowo selalu menggunakan direct speech.

    tapi yang kuingat:
    dalam banyak hal cewe mengharapkan dukungan sementara cowo mengharapkan kepercayaan

    kalau menanyakan sesuatu:
    cewe ingin didengarkan (saja), sementara cowo ingin jawaban

    jadi seawind jangan merasa bersalah atau beda kalau lebih cenderung direct. sebenarnya jauh lebih simpel dan mudah kalau bahasa komunikasi manusia tidak perlu muter-muter

  3. utk cewe, makanya punya sepatu cukup satu aja, atau klo ingin punya lbh, samakan model dan warnanya, spy ga bingung milih.

    utk cowo, klo diminta milih warna, jwb nya ‘biru’ aja.

Comments are closed.

%d bloggers like this: