Skip to content

Thin Slicing

July 22, 2007

Di akhir sesi “training decision making” kemarin, ada pembahasan tentang buku “Blink”. Salah satu bab menceritakan tentang seorang psikolog (atau peneliti?) yang hanya dengan mendengarkan percakapan (selama 15 menit 1 jam) antara sepasang pria dan wanita, bisa menebak (dengan ketepatan 97% 95%) apakah pasangan tersebut akan tetap bersama atau bercerai 15 tahun kemudian.

Buku “Blink” memang menyampaikan konsep pengambilan keputusan yang terjadi hanya dalam sekejap mata. “Thinking Without Thinking”, alias berpikir tanpa [harus melalui tahapan] berpikir [pada umumnya]. Tapi aku bukan mau membahas tentang konsep ini.

Yang menggelitik adalah tentang thin slicing yang dirumuskan oleh si psikolog, yaitu 4 sikap penting yang dia perhatikan dalam percakapan sepasang pria dan wanita. Jadi selama 1 jam itu dia hanya fokus pada 4 hal tsb, apakah muncul dalam percakapan atau tidak.

1. Defensif
2. Mengabaikan/asal menjawab
3. Mencela/mengkritik
4. Merendahkan

Dari keempat itu, nomor 4 (merendahkan) adalah yang paling parah. Dengan satu sikap itu saja, tanpa perlu sikap yang lain, sudah pasti hubungan tersebut tidak akan bertahan lama. Wujud sikap merendahkan misalnya: “Ah kamu perempuan bodoh tau apa?!” atau “Kamu wanita murahan!”.

Nah, reaksi pertamaku adalah heran. Kalau si pria menilai wanitanya perempuan rendahan, kok ya mau pacaran dengan dia? Menurutku aneh. Coba pura-puranya kita balik ke titik sebelum pacaran, waktu masih ‘lihat-lihatan dan mencari-cari’.

Misalnya aku cowok, punya sekelompok gang hang-out, terdiri dari beberapa cowok dan beberapa cewek. Di antara cewek-cewek itu ada yang cantik, pintar, seksi, ramah, fun, periang, dst (sebut deh semua sifat yang oke). Ada juga 1 cewek yang meskipun gak jelek (mungkin cantik dan seksi dan periang juga), tapi ternyata bodoh atau bahkan murahan. See the point? Jadi di titik ini (belum pacaran, baru bergaul biasa) aku sudah punya negative feeling bahwa di cewek A itu bodoh dan murahan. Dan selain dia, jangan lupa, ada cewek lain yang sama cantik dan seksi dan periangnya, plus gak bodoh dan gak murahan. Jadi ada yang bisa dibanding-bandingkan.

So, bukankah di titik itu GAK MUNGKIN aku naksir cewek A ini? Lah kan aku udah menilai dia bodoh dan murahan, artinya gak menarik toh? Jadi harusnya sejak awal, GAK MUNGKIN ada hubungan pacaran antara aku (si cowok) dan di A (si cewek murahan dan bodoh ini). Secara natural, PASTI aku lebih naksir si cewek B, yang cantik-seksi-periang-pintar-gak-murahan. Hukum alam kan? Bahwa siapapun pasti lebih tertarik pada orang yang menimbulkan perasaan positif, bukannya negatif?

Atau gak begitu?

Waktu aku lontarkan keherananku di forum diskusi, ternyata yang cowok-cowok bilang, memang gak begitu. Kadang alasan cowok pacaran hanya untuk membuktikan bahwa dia BISA mendapatkan cewek itu, terlepas dari penilaian pribadi si cewek. Kata mereka lagi, kadang mereka memang sengaja memilih cewek yang lebih rendah levelnya dari mereka, supaya mereka bisa (merasa) berkuasa atas si pacar (atau istri nantinya).

Wow!

Ya pantes dong kalau hubungan itu gak akan bertahan lama. Wong motivasi awalnya aja udah salah.

(Setelah diskusi berakhir, aku masih menyisakan ketakjuban akan ‘pengakuan’ cowok-cowok itu tentang cara berpikir cowok. Ooohh jadi begitu ya. Hmmm….๐Ÿ™‚ )

Anyway, kembali ke 4 point itu, sebetulnya itu bisa dilakukan oleh siapa saja; pria ke wanita maupun wanita ke pria. Ya gawatlah kalau sampai punya sikap begitu. Pake akal sehat aja, sebuah hubungan hanya akan bertahan lama kalau kedua pihak merasa aman dan nyaman secara emosional. Sedangkan keempat sikap itu jelas-jelas emotional abuse, ya kan?๐Ÿ˜‰

Eh, jadi iseng mikir. Kalau pasangan tersebut nyadar akan keempat “dosa” tsb, trus mereka berusaha keras untuk berubah, bisa jadi mereka batal berpisah kan. Artinya ramalan si psikolog meleset dong ya, hehehe. Seandainya setiap pasangan yang dia ramal itu baca buku “Blink” lalu berubah jadi baik, bisa jadi semakin banyak pasangan yang batal berpisah dong. Hehe, penasaran aja, apakah penyebutan angka 95% itu sudah memperhitungkan faktor bahwa mungkin saja ada perubahan ke arah yang lebih baik dalam jangka waktu antara si-psikolog-mencuri-dengar-percakapan-tsb sampai tahun ke 15 yang dimaksud.๐Ÿ˜›

From → matabaca, opini

4 Comments
  1. sue permalink

    wanita berharap pria berubah setelah menikah, tetapi mereka tidak

    pria berharap wanita tidak berubah setelah menikah, tetapi mereka berubah

  2. Yg penting itu bukan 97%-nya, tapi dari 100 pasangan yg sudah berkonsultasi ke psikolog itu, berapa orang yg si psikolog itu bisa nebak dgn ketepatan 97%? jgn2 cuma sekali itu aja, yg lainnya nihil, tp ga diekspos krn nnt bukunya ga ada yg beli dong…

    “Pengakuan” teman cowokmu itu tidak bisa dong diasumsikan sebagai cara berpikir cowo, karena cewe jg bisa berpikir spt itu.

    Trus krn ketepatannya 97%, artinya kemungkinan salah analisanya adalah 3%, artinya mungkin aja ternyata pasangan itu berpisah 14 thn kemudian hehe…

  3. mohon maaf, ada kesalahan teknis. yang tercantum di buku adalah 1 jam (bukan 15 menit), dan akurasinya 95% (bukan 97%).
    artikel sudah diedit.๐Ÿ™‚

    @sue: teori yang menarik๐Ÿ™‚

    @my: sebetulnya itu pengakuan beberapa cowok, bukan cuma 1 orang. ya tapi memang betul, gak semua cowok begitu. tp point-nya adalah: aku takjub krn sebelumnya aku gak tahu klo pemikiran spt itu ada.

  4. sue permalink

    aq rasa tidak ada cowo atau cewe yang sengaja mencari pasangan untuk direndahkan. tapi ada orang yang memang caranya bicara, caranya menyampaikan sesuatu memang terbiasa merendahkan baik disadari ataupun tidak dan itu memang sangat menyakiti hati pasangannya.
    gampang saja kalau mau tahu, lihat bagaimana cara mereka ngomong dengan pembantu, supir, atau ob. apakah cara mereka sangat memandang rendah atau tidak.

Comments are closed.

%d bloggers like this: