Skip to content

The Great Wedding Orchestra

July 16, 2007

I attended my cousin’s wedding party last Saturday. It’s more a formal-gala-dinner-completed-with-orchestra than a family wedding party to me.

1. It’s an RSVP invitation. Inside the invitation I got a card with table number and phone number that I must call to confirm my presence.

*ah susah nulis pake bahasa Inggris*😛

2. Pas hari H-nya, begitu sampai pintu masuk, langsung disambut usher yang minta kartu nomor meja tsb trus nganterin ke meja ybs.

3. Kalau sudah duduk lupa berdiri *iklan Ligna*. Begitu duduk, ya duduk terus sampai acara selesai, gak ada alasan untuk mondar-mandir, karena makanan dihidangkan per meja. Akibatnya aku gak bisa kelayapan motret. Gak pede! Rasanya akan melanggar pakem klo aku nekat.

4. Makanan dihidangkan berurutan. Makanan pembuka: lobster! (dan cemilan seafood lainnya), dilanjut sup krim. Main course-nya steak sapi, ayam, dan ikan. Menyusul Hongkong noodle. Desertnya es krim vanila dan cake coklat serta setumpuk praline. Minumannya teh, kopi, dan air putih. *sayang gak ada wine, hihihi*

5. Ada panggung yang menampilkan orchestra sungguhan lengkap, yang main non-stop sejak sebelum pengantin datang sampai selesai *kecuali pas sambutan-sambutan lah ya*. Semua lagu dinyanyikan secara live, termasuk waktu prosesi pengantinnya. Cuma sayang waktu itu ada kecelakaan teknis: mike-nya mendenging! Hilang deh kesakralan prosesinya.😦

6. MC-nya: Koes Hendratmo.

7. Ada kejutan dari keluarga pengantin berupa operet Sound of Music yang dibawakan anak-anak kecil diiringi piano by their Opa – alias ayah pengantin wanita. For me, this is the best part, secara aku suka banget Sound of Music. So familiar banget waktu mereka bawain Do Re Mi, gak terasa badan ini ikut bergoyang sambil bersenandung.🙂

8. Souvenir dibagikan setelah acara selesai (bukan waktu ngisi buku tamu seperti kawinan pada umumnya). Menurutku ini pengaturan yang sempurna, dengan begitu tetamu gak direpotin mikir nyimpan souvenir di mana selama acara berlangsung. Meja makan juga jadinya leluasa untuk naruh hidangan, gak disempitin barang-barang.

9. Setiap sambutan ditranslate ke dalam 2 bahasa: Inggris dan Mandarin. Keluarga pengantin wanita ada yang menikah dengan orang asing, jadi ya banyak tamu dari luar negeri, salah satunya Duta besar Jerman.

10. Rada ngebosenin waktu menjelang akhir ada monolog tentang sejarah keluarga besar pengantin wanitanya (baca: kisah hidup ayah pengantin wanita). Keliatan banget siapa yang punya hajat di sini, karena jelas-jelas GAK ADA kisah tentang keluarga pengantin pria, yang seharusnya ada juga ya supaya balance. Ditambah setelah itu ada pemberian penghargaan bagi sahabat-sahabat si ayah.

Overall, kalau dilihat dari acaranya sendiri sih ini wedding party yang bisa dibilang sempurna: great food, great entertainment, fun enough deh. Tapi kalau dari sisi kekeluargaannya, terasa ada yang kurang. Pesta pernikahan yang ideal buatku adalah yang berhasil membuat kedua belah pihak keluarga besar saling menyatu. Yang tidak membuat pihak keluarga merasa hanya sebagai tamu, bukan bagian dari tuan rumah.

Tapi memang susah juga kali ya, karena gap sosial dua keluarga ini memang cukup besar. Anyhow, pengantinnya sih tampak bahagia sekali. Itu yang terpenting.🙂

Foto-foto bisa dilihat di sini.

From → lidahkecap, opini

One Comment
  1. I saw the picts and in my opinion it was a glamour party and must have costed a lot of money. It is sometimes diffucult to distinguish whether the party is the representation of happiness or to establish an image. I agree with you that the party should have been an event for unification of two big families.

Comments are closed.

%d bloggers like this: