Skip to content

Mendung tak berarti hujan…

February 14, 2007

… tapi hujan pasti berarti banjir!

Bener kok. Di salah satu sudut Jakarta pasti ada banjir kalau hujan.

Dan tanggal 2 Februari 2007, setelah selalu menyombongkan diri, “Gak pernah! Kos-ku mah gak pernah banjir, soalnya jalanannya tinggi. Jalanan di samping-samping mungkin banjir, tapi jalananku mana pernaaaahh..” – sang banjir menyergap dengan tiba-tiba, ngabongohan, ketika kami sedang terlelap tidur.

Hari itu sekitar jam 6 pagi, aku terbangun karena kehebohan teman-temanku. Begitu aku keluar dan melongok dari balkon lantai dua… ya Tuhanku, banjir!! Gak tanggung-tanggung, air sudah setinggi betis. Rumah yang lebih rendah dari tempat kos-ku sudah terendam. Air sudah mulai melewati pagar depan.

Langsung aku mengecek kondisi beberapa teman via sms. Kebanyakan mengalami hal serupa. Selanjutnya pertanyaan yang dilontarkan setiap orang, “Ngantor gimana caranya nih?”

Menjelang jam 9, datang berita bahwa daerah kantorku sudah tidak bisa dilewati, sehingga terpaksa hari itu kantor tutup.

Perasaan was-was, gak berdaya, gak pasti, takut, bercampur dengan antusias. Aneh ya? Sedang bencana begitu kok bisa antusias. Seperti gak menenggang perasaan orang lain yang terkena imbas lebih parah saja. Entahlah. Mungkin karena ini pertama kalinya mengalami SENDIRI banjir. Terkurung di rumah, tanpa beras, namun syukurlah masih ada bahan makanan lain yang bisa dimasak. Air minum cukup, tapi air mentah hampir habis. Listrik mati, sedangkan handphone low-batt. So, antara aman dan bahaya, antara terjamin dan terancam.

Oya, siang itu untuk pertama kalinya kami berkenalan dan bermain-main dengan Dusha – cucu tante kos kami. Biasanya dia selalu di lantai dasar. Langsung saja kami yang sudah kehabisan gaya ini (bosen euy, gak bisa nonton dan gak ada buku baru buat dibaca) mengerubungi si Dusha, foto bareng, dll, pokoknya berusaha ngambil hatinya dia supaya mau digendong atau sekedar tertawa pada kami. Dan sukses lho! Buktinya, sejak itu si Dusha beberapa kali minta naik ke lantai 2 untuk menemui kami. Hahahaha.. mari kita “didik” dia! *evil grin*

banjir

Beberapa anak kos mengungsi hari itu juga, ketika air meninggi sampai sepinggang. Tapi kami bertiga – aku, Lily, Debe – memutuskan untuk menunggu sampai esok harinya. Kami ingin tau apakah ada kemungkinan air naik terus sampai lantai 2, sehingga kami harus menaikkan barang-barang ke lantai 3. Meskipun kemungkinannya kecil (kalau lantai 1 kos-an sampai terendam habis, itu berarti Grogol sudah hilang), tapi kami gak mau kepikiran dan waswas di tempat pengungsian.

So, malam tanggal 2 Februari itu, Jumat, kami bertiga tidur di satu kamar, dengan penerangan lilin saja. Tapi tidur pun gak bisa nyenyak. Sekitar jam 1 malam, hujan turun dengan derasnya, lengkap dengan petir dan kilat. Beberapa kali aku turun ke lantai dasar, dengan hanya berbekal senter, untuk mengecek ketinggian air. Syukurlah nampaknya air tidak tambah tinggi, masih sebatas undakan teras depan, meskipun hujan masih saja deras.

Di pagi hari Sabtu, begitu bangun dan sarapan, kami mulai menaikkan barang-barang elektronik, kasur, dan beberapa lainnya ke lantai 3. Karena koleksi bukuku terlalu banyak, saat itu aku pasrah, kalau memang banjir bisa sampai ke lantai 2, sudahlah kurelakan buku-bukuku.

Selama musibah ini aku belajar 1 hal. Betapa prioritas dan standard kita bisa berubah dengan cepat dalam kondisi mendesak. Standar kebersihan menurun (jadi gak terlalu jijikan), prioritas tentang mana barang yang dianggap berharga berubah, gengsi dilupakan, prasangka menghilang.

Akhirnya kami bertiga meninggalkan kos-an sekitar jam 2.30. Dijemput Pak Soleh (bapak ini baiknya luar biasa, sangat sangat sangat protective terhadap kami), kami menuju rumah saudara Lily di Citra Garden, berkendaraan rakit -> bajaj -> gerobak -> angkot -> gerobak -> rakit -> mobil. Jarak Susilo – Pasar Cengkareng ditempuh sekitar 4 jam. Salutnya, Pak Soleh menempuh semua itu dengan berjalan kaki. Dobel jarak! Karena dari Cengkareng ke Susilo pun ternyata beliau jalan kaki!

Rakit yang kami naiki hanya rakit darurat terbuat dari papan dan galon aqua (bukan perahu karet tim SAR) hasil swadaya masyarakat sekitar. Tapi itu adalah penyelamat kami. Tanpa mereka, kami pasti harus lebih bersusah payah menempuh perjalanan dengan jalan kaki – di mana di tempat-tempat tertentu tingginya sampai seleher. Berkat merekalah kami bisa ‘menikmati kemewahan’ duduk manis di tempat kering, sementara mereka sang pendorong rakit (iya, rakitnya didorong, bukan dikayuh, so mereka sambil berjalan di dalam air) menggigil kedinginan karena entah sudah berapa kali bolak-balik mengangkut penumpang seperti kami.

Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa mereka keterlaluan karena meminta bayaran yang kelewat mahal. Tapi aku gak melihat begitu. Biarlah itu menjadi rejeki mereka. Apalah artinya uang 50 ribu, 100 ribu, bahkan 200 ribu, dibandingkan dingin menggigil yang mereka rasakan, dibandingkan dengan pegal dan nyeri di tangan, bahu, pinggang mereka ketika kami dengan enak duduk di atas, ketika kaki telanjang mereka menginjak batu-batu tajam sepanjang perjalanan, dan kulit mereka terbasuh air hitam bau dan gatal sepanjang Daan Mogot.

Di saat itulah segala batasan seolah memudar. Di kondisi biasa, mungkin saja mereka berpenampilan seperti preman, yang normalnya kami hindari dan kami takuti. Tapi waktu itu, betapa besar rasa terima kasih kami pada mereka. Ada secercah perasaan seperti “Tidak selayaknya kami menikmati ‘kenyamanan’ perjalanan ini di atas penderitaan mereka”. Tapi mau bagaimana lagi, kami – setidaknya aku – sudah terbiasa dimanja dengan kenyamanan dan fasilitas.

So, singkat cerita, sampailah kami di tempat pengungsian pertama. Di sana kami tinggal sejak Sabtu itu, 3 Februari, sampai Selasa pagi, 6 Februari. Makasih banget buat keluarga Om dan Tantenya Lily, yang udah rela ketambahan 2 makhluk seperti kami (Lily mah udah dianggap kayak anak sendiri tuh). Juga buat Lily-nya yang udah ngajak kita.

ngungsiSelasa pagi, karena Debe dan Lily gak enak kalau gak masuk kerja sedangkan teman-teman kantor mereka masuk (eh, padahal ya, kalo itu aku, cuek aja, lah emang lagi musibah, hehe), kami bertekad turun gunung, kembali ke lautan Jakarta itu. Beruntung lagi, ada temannya si Tante yang juga nganter anaknya kerja ke daerah Sudirman. So kami bisa bareng mobil mereka sampai Semanggi. Untung juga hari itu tol bandara sudah bisa dilalui, meskipun masih ada genangan hampir setinggi ban mobil. Dari atas jembatan layang Grogol, kami berusaha melihat kondisi sekitar Susilo. Duh, kos-an kita di situ tuuuhh.. gimana nasibnya ya.

Sampai di Semanggi, kami berpencar. Lily menuju kantornya di Buncit untuk kerja dan kos sekitar situ. Debe juga lanjut kerja ke Cikeas dan kos di Puri Cikeas (haha, bohong). Aku? Aku kos di Karbela, dekat kos-an Rina. Tepatnya di Jl. Royani. Kos harian.

Hiks. Awalnya waktu aku liat kondisi kos-an itu, dalam hati, duh tempatnya crowded dan gelap gini. Rumah bedeng. Dindingnya tripleks, jarak antar kamar deket banget. Campur cowok dan cewek. Gak ada tempat tidur, cuma kasur busa. Gak ada sprei dan bantal. Gak ada yang aku kenal. Syukurlah kamarnya sendiri not too bad , cukup bersih dan terang.

Eh ternyata malam pertama dan selanjutnya aku bisa juga tidur nyenyak. Cuma kebangun karena hujan deras, so jadi takut banjir lagi (kepikiran kos-an di susilo). Rupanya kalau kondisi kepepet, tanpa sadar tubuh dan pikiran mungkin beradaptasi dengan sendirinya.

Sempat nganggur 2 hari: hari Selasa itu dan keesokannya. Hari Kamis sudah bisa ngantor lagi. Oh senangnya! Ketemu manusia yang aku kenal lagi. Ketemu kondisi yang familiar lagi.🙂 Oya, Rina tetap kerja (dan fitness!) seperti biasa bahkan sejak banjir hari Jumat. So cuma ketemu dia malamnya 1 kali.

And.. finally.. di suatu hari yang cerah.. hehe.. hari Minggu pagi tanggal 11 Februari, 9 hari setelah mengungsi, aku bisa balik ke kamar nyamanku di Susilo lagi.

HOME SWEET HOME….

pasca.jpg

[ini foto suasana jalanan di depan kos hari Minggu malam, sudah kering. tetangga rumah depan sedang membenahi rumahnya dari sisa-sisa banjir]

From → saksimata

One Comment
  1. Karbelanya dimana? Gw di Royani IV.. Banjir gak ya di situ?

Comments are closed.

%d bloggers like this: