Skip to content

Dilarang Memotret di Tempat Umum

January 26, 2007

… lah? Jadi bolehnya di mana dong…

Selama ini (baca: sebelum keranjingan motret), aku gak pernah ngeh bahwa gak di semua tempat boleh motret. Waktu aku belum punya kamera sendiri, entah orang lain yang motret atau aku yg motret dg kamera pinjaman, GAK PERNAH sekalipun aku ragu-ragu untuk berpose atau menjepretkan kamera. Dan gak pernah juga ada yang melarang atau menegur.

Di restoran, pernah. Di dalam mal, pernah. Di tempat rekreasi, pernah. Di dalam gereja, di depan mesjid, di sekolah, pernah. Dan semua selalu mulus-mulus aja.

Makanya aku jadi heran, dan kesal, ketika beberapa bulan belakangan ini, aku mengalami ditegur-tegur (bentuk jamak=berkali-kali ditegurnya :P) gak boleh motret. Dalam sebulan ini aja, sudah 4 kali terjadi. Yang terakhir, malah gak cuma ditegur, tapi disuruh hapus. Huhuhuhuhu…

Waktu aku cerita tentang ini ke beberapa teman, salah satu berkomentar, “Yee.. ya salah kamu. Udah tau pernah ditegur sekali, berarti ya gak boleh. Kenapa tetep dilakuin.”

Ya, kenapa??

Hmm, soalnyaaa.. sebel siihh dilarang-larang. Makin dilarang malah makin ingin menguji. Hehehe.

Tapi selain itu, sebetulnya ada sekelumit rasa tidak percaya, bahwa benar-benar di tempat-tempat itu tidak boleh memotret. Ya, aku tau itu peraturan mereka, dan ketika aku datang ke tempat mereka, selayaknya aku mengikuti aturan main di sana. Still, benak ini mempertanyakan, kenapa gak boleh? Apakah alasannya masuk akal? Kenapa dulu kok aku bisa fine-fine aja? Di tempat A boleh kok di tempat B bisa dilarang?

Misalnya, di Taman Anggrek bertebaran orang yang asyik berpose di lobby dan di air terjunnya. Apa satpam-satpam itu gak melihat, makanya mereka gak ditegur? Pasti bukan karena itu.

So, kenapa waktu aku motret di jalur mobil di LUAR gedung ITC Roxy Mas, ada bapak-bapak yang melarang? Katanya aku harus datang ke pos satpam dulu, minta ijin. Entahlah dalam kapasitas apa si bapak melarang ini, soalnya gak pake seragam, dan gak terlihat tanda pengenal juga. The devil inside me said, “Ah ini mah pasti UUD, ujung-ujungnya (minta) duit.” Aku bilang, “Oh saya gak tau Pak. Saya pikir ini kan tempat umum, jadi boleh.” Eh dia bilang, “Ini bukan tempat umum.”

bawangHmm, emangnya mal dan pertokoan itu gak termasuk tempat umum toh? Baru tau. Kalau di dalam kios-kiosnya gak boleh motret sih, akhirnya aku udah mematuhinya (setelah insiden di supermarket Superindo, di mana aku ditegur. yang membuat aku jengkel bukan gak boleh motretnya, tapi sebutan ibu yang berkali-kali dia pake. uh, entah kenapa cara dia menyebut “bu” dalam setiap kalimatnya itu membuat aku merasa udah tuaaaaa banget).

Kembali ke laap.. toopp.. hehe. Kembali ke masalah gak boleh motret. Yah, kalau di tempat umum kita gak boleh motret, trus buat apa jalan-jalan bawa kamera. Di rumah mulu mah bosen kali. Justru ketika kita tiba di tempat yang berbeda dengan lingkungan kita, maka kita ingin mengabadikan moment dan tempat itu dengan kamera. Ya toh?

Mungkin kekesalan ini, dan ketidakmampuanku untuk memahami peraturan ini cuma karena ke-stubborn-an aku aja.

*foto di atas adalah foto sang bawang yang aku jepret di Superindo, dalam rangka latihan motret makro. itu kan gak memperlihatkan sisi Superindonya sama sekali, desain apanya yang takut dicuri, bawang di mana-mana ya sama aja.*

From → bragging

Comments are closed.

%d bloggers like this: