Skip to content

Tanpa Lilin

July 20, 2006

digitalfortressTau dong buku Da Vinci Code nan menghebohkan itu? Pengarangnya bernama Dan Brown.
Pertama kali aku berkenalan dengan beliau ya lewat buku kontroversial itu. Selain *tentu saja* topik kontroversialnya, aspek yang menarik di buku ini adalah banyaknya teka-teki yang mengalir sepanjang halaman-halaman buku tersebut.

Tidak berapa lama setelah heboh buku ini, terbit buku lain karya Dan Brown: Malaikat dan Iblis. Ini sebetulnya buku yang dia tulis sebelum Da Vinci Code, tapi di Indonesia justru baru beredar belakangan. Ternyata setelah aku baca, buku ini lebih menarik daripada Da Vinci Code. Wah, sepertinya aku akan mulai menemukan pengarang favorit baru nih.

OOT sedikit.
Sebelum ini aku jatuh hati dengan karya-karyanya Michael Crichton: Jurrasic Park, Congo, The Sphere, Predator, dst… Temanya yang mengenai science fiction (ah bukan frase yang tepat nih. jadi apa yah. whatever deh. pokoknya kalau kalian sudah baca sendiri, pasti bisa melihat kesamaan tema antara buku-buku tersebut) sanggup membuat aku hanyut dalam tiap halamannya. Ketika di Gramedia maupun Gunung Agung tidak ada lagi buku karangan dia, karena semua yang ada sudah aku baca, aku agak patah hati (haha! berlebihan), merasa kehilangan sumber kesenangan. Padahal list bukunya yang pernah diterjemahkan di sini masih ada beberapa lagi. Tapi mungkin saking sudah lamanya, stoknya sudah habis.

Trus lebih ke belakang lagi, waktu aku masih muda (cieeee.. masih kuliah gitu deh..), aku memfavoritkan Sidney Sheldon. Sampai sekarang sih kalau ada buku barunya, aku masih akan beli. Tapi karena aku sudah sangat familiar dengan plot ceritanya, ketertarikanku agak berkurang. Jenuh kali ya.

Jadi sejak buku Michael Crichton terakhir yang kubaca, aku belum menemukan gairah yang sama di buku manapun.

Sampai kemarin. Waktu aku membaca buku Digital Fortress.

Sebetulnya buku itu sudah aku beli bulan lalu. Tapi karena minatku tersita sepenuhnya oleh… (you know laaahh… hehehe…) buku Dan Brown tersebut terpinggirkan bersama tumpukan baju, kertas, buku, film, dan barang-barang tak terperhatikan lainnya. Bahkan bungkus plastiknya belum aku buka! (padahal dulu mana pernah 1 buku baru tersia-sia tak terbaca sampai lebih dari 1 hari)

Digital Fortress atau Benteng Digital ini adalah cerita mengenai cryptography. Yup! Tetap tentang teka-teki seperti di 2 buku yang aku baca sebelumnya.
Ber-setting-kan badan pemerintahan Amerika NSA (singkatan dari “National Security Agency”, yang oleh beberapa pihak kadang diplesetkan juga menjadi “No Such Agency”, hehe), buku ini bercerita tentang sebuah source code yang berisi rumus enkripsi yang tidak bisa dipecahkan bahkan oleh komputer pemecah kode tercanggih yang dimiliki NSA. Buat aku yang bekerja cukup dekat dengan internet, source code, encryption/decryption, sejak halaman pertama pun mataku sudah tidak mau lepas dari buku ini. Meskipun ini hanya fiksi, dan aku tidak berkecimpung di bidang ini langsung (aku hanya programmer biasa siiihh), asyik sekali membaca pengalaman tokoh-tokoh ceritanya sewaktu berkutat dengan kode-kode rahasia, membuat program penyusup untuk mengetahui alamat sumber suatu email, membuat sistem firewall untuk menghalau hacker, et cetera et cetera…

Tentu saja ada pembunuhan juga di dalamnya. Dan romantisme. Tapi seperti buku beliau yang lainnya, daya tarik utamanya ada pada kecanggihan Dan Brown mengolah teka-teki (atau kode rahasia, atau simbol, atau permainan kata, huruf, dan angka, istilah, rumus, dan lain sebagainya). Wuih.. pokoknya salut deh! Ketika sebuah buku sanggup memukau pembacanya karena kepenasaran, konflik, misteri, dan ketegangan, otomatis penghargaan akan ditujukan kepada pengarangnya sebagai sang arsitek yang darinya tercipta setiap huruf, kata, dan kalimat yang telah menghipnotis para pembaca.

So, apa hubungan Dan Brown dengan judul posting ini?🙂

Di bagian akhir beberapa bagian buku, dikisahkan bahwa sang tokoh pria selalu menandatangi surat/email/memo-nya untuk sang tokoh wanita dengan 2 kata tersebut.
Seperti ini:

Selamat pagi…
Aku sangat mencintaimu.

Tanpa Lilin,
-David-

Si tokoh wanita (salah satu ahli cryptography terbaik di NSA) sangat penasaran dengan arti dari “Tanpa Lilin” tersebut. Sedangkan si tokoh pria (dosen ahli bahasa) sengaja membiarkan sang wanita mencari tahu sendiri arti kata tersebut, karena baginya arti di balik kata tsb sangat manis. Terlalu manis untuk tidak dirahasiakan.

Tapi tentu saja Dan Brown menceritakannya pada pembaca bukunya. Jadi begini:

Di masa renaisance di Spanyol dulu, para pematung marmer mahal terkadang membuat kesalahan/cacat sewaktu memahat. Cacat tersebut kemudian ditambal dengan menggunakan lilin, yang dalam bahasa Spanyol adalah cera. Patung-patung yang sempurna tanpa cacat, disebut patung-patung sin cera (tanpa lilin). Kata tersebut kemudian dipakai juga untuk memaksudkan ‘jujur’ atau ‘tulus’. Dalam bahasa Inggris kemudian menjadi sincere atau sincerely, yang biasa dipakai juga sebagai salam penutup surat.

Begitu. Bagus kan artinya? Ending yang manis dari buku ini, no?🙂 *btw mungkin di buku aslinya yg berbahasa inggris, teks “Tanpa Lilin” itu aslinya “Without Candle” kali ya? must find out nih*

Aku belum selesai bacanya. Seperti biasa, aku selalu mengintip bagian belakang dulu, baru nanti kembali lagi ke halaman depan. Hehehe. Tapi nanti kalau sudah selesai, boleh dipinjam. Dan boleh dipastikan, ketika buku beliau lainnya sudah ada di sini, aku akan beli! Aku sempat intip judulnya: Deception Point. Just wait and see.

Tanpa Lilin,
– Seawind –
😉

 

*update 25 July 2006*
Ternyata bahasa Inggrisnya = “Without Wax”

From → fever

Comments are closed.

%d bloggers like this: