Skip to content

Industri Tauge Modern

January 26, 2009

Ada yang tau gimana membuat menumbuhkan tauge? Apakah ditanam di tanah? Bibitnya apa sih? Aku yakin masih ada yang gak ngeh. :P

Well, bibit tauge adalah kacang hijau, dan cara menumbuhkannya ada beberapa cara. Yang paling sederhana adalah seperti yang diajarkan waktu SD/SMP *ada yang gak pernah dapet praktikum ini?*. Biji kacang hijau disebar di permukaan kapas yang dibasahi, masukkan ke dalam stoples. Kemudian biarkan, namun kapas harus dijaga kelembapannya dengan cara diberi air selang beberapa waktu sekali. Gak lama nanti si kacang hijau berubah deh jadi kecambah.

Tapi itu sih cuma buat eksperimen kecil-kecilan. Untuk membuat tauge sendiri buat bahan masakan sehari-hari misalnya, ribet banget kalau harus nyebar kacang hijau di atas kapas. Jadi cara lain membuat tauge untuk konsumsi pribadi kira-kira sbb:

- siapkan beberapa gram kacang hijau sesuai yang akan dikonsumsi, misalnya 100 gram, cuci bersih
- rendam kacang hijau semalaman
- siapkan wadah berlubang, bisa saringan ataupun kukusan, alasi dengan wadah lain yang bisa menampung air yang akan menetes
- alasi dasar wadah tsb dengan lap bersih atau tisu dapur
- tuang kacang hijau yang sudah direndam ke wadah tsb, dan tutup lagi dengan lap serupa atau tisu dapur
- siram kacang hijau dengan air bersih 3 kali sehari
- dalam 2-3 hari kacang hijau akan tumbuh menjadi kecambah yang cantik dengan akar-akar yang ramping panjang

(sumber: http://warungmuslimah.multiply.com/journal/item/44)

Hmm, lalu bagaimana dengan industri tauge? Di supermarket atau di pasar tradisional, kita menjumpai berpuluh kemasan atau berkeranjang-keranjang tauge. Apa iya tauge sebanyak itu dibuat dengan cara yang sama menggunakan kukusan?

Maka aku pun googling. Dan tau gak? Ternyata sedikit sekali referensi dengan keyword industri tauge atau pabrik tauge. Apalagi artikel tentang industri tauge modern. Padahal kalau direnungkan, gak mungkin kan gak ada “pabrik” tauge di Indonesia? Pasti banyak kok industri rumahan yang membuat dan menjual tauge dalam partai besar.

Well, at least aku tau SATU di antaranya, hehehe..

So, sekarang aku mau posting cara membuat tauge secara industri. Eh, industri maksudku tuh untuk dijual lagi gitu, bukan untuk konsumsi sendiri. Jadi ini ngintip dapurnya produsen tauge.

Bayangkan satu ruangan 6 x 8 meter yang selalu lembab, berisi kira-kira 20-100 keranjang bambu beralas daun pisang. Keranjang bambu digunakan sebagai wadah kacang hijau yang sedang dikecambahkan. Selain itu ada juga bak-bak penampungan air dan tiga buah tahang (ember besar dari kayu jati). Tahang berfungsi untuk merendam kacang hijau sebelum dikecambahkan.

- siapkan air di dalam tahang untuk mencuci kacang hijau sampai bersih.
- tuangkan sekian puluh kilogram (catet! KILO!) kacang hijau ke dalam tahang, cuci.
- cara mencucinya menggunakan ayakan khusus yang diaduk-aduk di dalam air. kacang yang jelek akan mengambang di permukaan, lalu ditangkap oleh ayakan tersebut dan disisihkan.
- kalau air sudah kotor, buang air tsb dan ganti dengan yang bersih.
- lakukan terus berulang-ulang sampai tidak ada lagi kacang yang mengambang.
- setelah kacang hijau bersih, rendam selama 6 jam kemudian tuangkan kacang ke dalam keranjang-keranjang pendek (boboko) untuk ditiriskan.
- selain ditiriskan, kacang perlu dihangatkan. jadi ke dalam keranjang tersebut dituangkan apu (bahan kapur untuk makan sirih). tutup keranjang dengan karung goni agar terhindar dari kontak yang berlebihan dengan udara.
- biarkan selama .. (duh ini aku lupa, sehari, dua, atau tiga?) hari sampai kacang menjadi kecambah pendek-pendek.
- pindahkan kecambah pendek tersebut ke dalam keranjang-keranjang tinggi yang sudah dilapisi daun pisang. dan tibalah bagian yang terberat.
- agar kecambah2 tsb tumbuh menjadi tauge yang gemuk berisi, kuncinya adalah penyiraman dengan banyak air. so, sejak itu keranjang berisi kecambah tsb harus disiram tiap beberapa jam sekali. seingat aku, tidak kurang dari 5 kali sehari. dan setiap kali bukan hanya satu kali penyiraman! berember-ember air, bertahang-tahang air BERSIH harus disiramkan (baca: dibuang) untuk memberi minum si kecambah.
- setiap kali setelah disiram, keranjang harus ditutup lagi dengan karung goni.
- setelah sekian hari (maap lupa juga, nanti menyusul konfirmasinya, tanya dulu ke tangan pertama, hehe) akhirnya tauge siap dipanen.

Btw, kalau kalian sempat ngintip, lucu deh tauge yang tumbuh di dalam keranjang itu. Putih, bersih, gemuk, bertumpuk-tumpuk. Jadi memanennya tinggal comot aja gitu, biasanya dari samping memutar ke tengah.

Pembuatan tauge itu sangat higienis. Kacang harus benar-benar bersih. Wadah-wadahnya juga demikian. Air untuk penyiraman juga harus bersih. Kalau tidak, maka tauge akan busuk. So, kalau mau langsung makan tauge dari keranjang, go ahead, aman kok! :)

Untuk dijual di pasar, biasanya tauge diangkut bersama keranjang-keranjangnya. Nanti baru dicomot di pasar sesuai yang beli. Siapa pembelinya? Kebanyakan para tukang mie bakso, atau para pengecer tauge (tangan kedua). Belinya juga gak tanggung-tanggung, sekian puluh kilo.

Btw, ini artikel yang aku temukan tentang pabrik tauge. Hanya ini satu-satunya, itupun tahun 2005. Bayangkan! http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0509/10/Jabar/2037131.htm

So, karena tau bahwa pembuatan tauge itu sangat berat, aku penasaran apakah ada cara membuat tauge yang lebih modern. Sayangnya hasil googling-ku mengecewakan. Sempat iseng tanya pendapat seseorang, dia sounding ttg teknik kultur jaringan. Tapi waktu kubaca sekilas, kok kayaknya gak cocok ya. Atau mungkin aku belum menangkap intinya.

Ada yang kebetulan punya info atau pemikiran? Tentang industri tauge modern? Any opinion is welcome. :)

About these ads
10 Comments
  1. berniat berganti haluan teh????

  2. sigana mo jualan bakso ci teteh … meh ga beli toge ka pasar … xixixi

  3. jualan bakso??? asiiiiiikkkk……aku bakalan sering mampir dooong ;) heuheu

  4. ortu aku juragan toge, tauuu.. klo ke garut aku bawa tour de toge deh.. :P

  5. Waaa…anak juragan…tajir dong…
    Cepetan nikah ya Teh,biar kalo imlek bisa ngasih angpao…:D….

  6. @evi: klo aku dah nikah, tiap imlek km aku kasih toge.. hihihihi

  7. Imam permalink

    Pengolah Air Lahan Gambut Menangkan Lomba Inovasi
    Kompas – 20 Agustus 2004

    Aplikasi teknologi pengolah air asin di lahan gambut menjadi air minum memenangkan Lomba Inovasi Teknologi 2004. Dewan Juri yang beranggotakan 11 peneliti dari BPPT menyatakan karya inovasi Arie Herlambang, peneliti BPPT meng ungguli karya 7 finalis lain-termasuk di antaranya peneliti dari Batan dan LIPI.

    Dijelaskan Koordinator Lomba Inovasi Teknologi, Yudi S Garno, teknik pengolah air di lahan gambut tersebut dinyatakan terbaik karena berhasil diterapkan di Kawasan Transmigrasi Kalimantan Tengah yang mengalami kelangkaan sumber air tawar.

    Hal ini sejalan dengan tujuan lomba yaitu menggali inovasi teknologi yang berdampak signifikan bagi kehidupan masyarakat. Penilaiannya mengacu pada kriteria utama yaitu bersifat inovatif, memiliki manfaat yang besar bagi masyarakat, dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas, serta ramah lingkungan, urai Yudi. Dengan kriteria itu terpilih pula sebagai juara kedua yaitu Iman Sudasri dari UPT LUK BPPT dengan inovasinya tentang Aparatus Penyemaian Kecambah Otomatis. Penyemaian kecambah otomatis ini telah digunakan oleh usaha kecil dan koperasi untuk pembuatan taoge di beberapa daerah.

    Sedangkan juara ketiga Agus Kuswanto, peneliti BPPT, menciptakan Geoscanner 1803 : Inovasi teknologi untuk survei kebumian. Karya inovasi yang dapat mempermudah pencarian sumber air ini, telah diajukan ke lembaga paten.

    Bagi para juara tersebut diserahkan hadiah berupa uang berturut-turut Rp 6 juta (juara I), Rp 4 juta (juara II), dan Rp 2 juta (juara III).

    Finalis lain

    Dari 26 peserta lomba inovasi yang pertama kali ini diselenggarakan BPPT terpilih 5 finalis lain, di antaranya Edi Herianto (LIPI), Sri Mulyono dan Tri Harjanto (Batan), Untung Sumotarto (BPPT), dan Supriyono (BPPT).

    Lebih lanjut dijelaskan Yudi, karya mereka sebetulnya tidak kalah dibandingkan yang dibuat para juara. Seperti misalnya insinerator tipe Rotary Kiln untuk pemusnah limbah domestik karya Edi Herianto. Insinerator ini telah mendapat paten, namun belum pernah diuji coba di lapangan.

    Dijelaskan Edi bila insineratornya diterapkan di Jakarta, dapat mengubah 6.000 m kubik sampah per hari dan membangkitkan listrik 8 MW.

    Saat ini produksi sampah organik di Jakarta mencapai 25.000 m kubik per hari. Selama ini limbah tersebut menjadi masalah di Ibu Kota karena tak mampu mengolahnya. (yun)

    • Aparatus Penyemaian Kecambah Otomatis ya. Makasih infonya Mas Imam. Di mana sy bisa baca ttg itu lebih detil ya?

  8. Tumpang info ya.. kalau di Malaysia pengeluaran tauge menggunakan aplikasi Set Pengeluaran Tauge Automatik) SEPTA yang telah dibuat oleh Pegawai Jabatan Pertanian (dan telah mendapatkan Anugerah Inovasi). Cara ini lebih mudah, jimat, tanpa menguras tenaga yang banyak.

    Peralatan yang digunakan adalah… tong sampah (jgn gunakan yg sudah dipakai untuk sampah!) kemudian akan alirkan air secara automatik menggunakan timer… jadi pengusaha boleh duduk goyang kaki.. dirumah.. ato buat kerja lain..

    Dibawah ini link Pengusaha SEPTA ini…
    Terima kasih.

    http://melenenterprise.blogspot.com/2009/04/set-penyiraman-taugeh-automatik-septa.html

    • Kamems, terima kasih utk infonya. Saya sudah berkunjung ke blog Anda.

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: